“Ya Allah.. Mudahkanlah..” Eh salah! “Ya Allah, Kuatkan!!”
Uncategorized
June 11, 2015
0

Hari ini saya berkesempatan mengikuti rapat kenaikan kelas murid-murid saya di salah satu SMK swasta di kota Semarang. Agak aneh memang ketika mengetahui bahwa gurunya mash 19 tahun dan bahkan ada murid yang usianya diatas sang guru. Itu yang membuat saya ketika diawal pertemuan, anak-anak bertanya masalah umur dan saya tidak pernah menjawab secara konkrit. Sakitnya, ketika saya menyuruh mereka menebak, mereka menjawab “25 tahun, Bu!!.. “30 Bu!!” *innalillahi.. ada juga yang “Pokoknya diantara 21-25 deh Bu”. Satupun tidak ada yang menebak kalau saya masih 19 tahun. Itupun belum genap pada waktu itu. Itulah mengapa saya lebih memilih merahasiakan usia. Pernah kemarin kembali membahas seputar usia di kelas 11. Saya mencoba jujur.

“Saya masih 19 tahun”.

“Hahhh?? Masa sih Bu?? Becanda si Ibu”, protes mereka.

“Hehehe. Kalian percaya?” sambil sedikit nada meledek.

“Engga sih, Bu..”.
*zzzz* Hiks sedih yaaa.. T.T

Mencoba menjaawab dengan kenyataan malah nggak dipercaya. Yasudah biarkan mereka mengira usia saya sesuai dengan perkiraan mereka. Ckckck. jangan mengatakan bahwa saya muka tua ya, tapi emang saya bongsor sih..

Kembali ke rapat kenaikan kelas. Mungkin bagi pembaca yang berprofesi sebagai guru, ini adalah hal yang sangat biasa. Tapi bagi saya ini luar biasa. Karena bekerja dengan para guru yang umurnya 3x lipat dengan saya bahka lebih. Saya merasa masih menjadi murid dan belum terasa gregetnya menjadi seorang pendidik. Saya merasa bahwa anak-anak yang saya ajar selama ini ialah teman-teman saya. Apalagi dulu ketiga mengajar kelas 12 yang notabene dulu ketika saya kelas 3 SMK, mereka kelas 1 SMK. Wajar kita seumuran. Tapi alhamdulillah, dengan merahasiakan usia dan sedikit menggunakan pedang “lidah” yang agak nancep, mereka masih menuruti aturan dan mau mendengar nasihat.

Pengalaman menjadi guru SMK yang notabene termasuk sekolah yang luar biasa” membuat saya banyak belajar disana. Ngerokok disekolah? Sudah biasa. Ngomong nggak sopan? Apa lagi. Nggak di dengerin? Ah, itu makanan sehari-hari. Bahkan sampai di modusin pula -_-. That is life.

Saya tercekat saat dimana rapat cukup ramai ketika membahas 5 sekawan di kelas 10. Dimana 5 orang ini sudah tinggal kelas ditahun lalu akibat perilakunya yang tukang bolos, kasar, nggak mau ngumpulin tugas, dan jarang berangkat. Kalau begitu siapa coba yang mau kasian -_-. Nah, dari ke 5 ini, hanya ada satu orang yang mengalami perubahan secara perilaku. Paling tidak ia bisa tahan di kelas sampai pelajaran usai. Lainnya? Ah, dikelas saya, mungkin dalam 1 semester tak lebih dr 5x bertatap muka dengan saya. Ketika ditanya “Loh? Yang lain kemana?” .. “Nggak masuk, Bu . Hari ini ada Kimia. Gurunya galak. Kalau ngomong matanya mau keluar” kata salah seorang anak. Saya hanya tersenyum. Hahhh..

Dari 5 sekawan itu, hanya 1 anak yang paling tidak mau berubah, dan sisanya tetap saja begitu. Yang satunya lagi sudah dianggap mengundurkan diri karena tidak ikut ujian, sehingga sisa 3 yang diperdebatkan apakah naik atau tidak, karena mereka sendiri sudah tinggal kelas ditahun lalu. Cukup alot memperdebatkan apakah si anak akan di naikkan atau tidak. Ada yang berpendapat sebaiknya yang 2 dinaikkan, dan yang 1 tidak. Karena yang satu ini dianggap “virus” yang membawa keburukan terhadap teman-temannya. Sisanya lagi beranggapan bahwa mereka sudah diberi kesempatan namun tidak bisa dipergunakan. Ketiga-tiganya kan sama-sama mau dan memang tidak ada niat untuk berubah. Daaan blablabla. Sehingga mungkin endingnya hanya 1 anak yag ber-progress-lah yang akan naik kelas dan sisanya boleh jadi tidak dinaikkan ataupun mutasi.

Apa pelajaran yang bisa kita ambil? Bahwasannya saat kita sudah diberi kesempatan untuk menujukkan bahwa kita mampu dan bisa, maka saat itulah kita harus memanfaatkannya dengan maksimal. Kita tidak bisa selamanya mengandalkan belas kasih dari orang lain untuk selalu memaklumi. Ada satu anak yang memang dengan jantan mengundurkan diri dengan dalih ingin bekerja membantu neneknya. Ia berani mengambil keputusan dan tidak menggantungkan hidupnya ke arah yang tidak jelas. Dia cukup tangguh untuk mengambil keputusan itu meskipun merenggut hak belajarnya. Dia tidak salah, karena sekolah itu hak dan membantu orang itu kewajiban. Namun ini berlaku dalam konteks tertentu. Tidak bisa digunakan ketika orang tua yang berada dan sudah mapan lantas menyuruh anaknya untuk keluar seolah saja karena dianggap tidak ada gunanya. Lebih baik membantu bisnis keluarga. Ada yang seperti itu? Ada dan banyak. Anak jalanan misalnya. Mereka yang berprofesi sebagai loper koran, kebanyakan penghasilannya rata-rata 200ribu perhari. 3 orang kakak beradik jualan dari pagi higga larut hingga mengorbankan sekolah. Orang tuanya? Duduk dipinggir jalan hanya mengawasi. Jika hari itu penjualan tak menembus target, maka keesokan harinya harus lebih pagi dan bolos sekolah untuk mencari tambahan uang yang dibawah target. Apa lantas? Tentu sekolah dikorbankan dan akhirnya keluar dengan dalih “Buat apa sekolah, nggak sekolah aja bisa dapat uang”. Sudah begitu, anak kerja capek, panas, dari siang sampai pagi. Ketika sesekali istirahat atau bermain, orang tuanya marah karena bagi mereka waktu adalah uang. Fisik jadi korban. Dipukul pakai kayu, di kata-katain kasar mereka rasakan. Ada anak yang pernah berkata “andai membunuh orang tua tidak dosa, maka sudah kubunuh ibuku. Orang kok dibantuin nggak tahu terima kasih”. Mengerikan bukan? Mereka masih ingin sekolah? Tentu sangat ingin. Antusias belajar mereka tinggi. Namun mereka tak bisa sebeas ke 4 anak yang bermasalah diatas.

Beberapa kali saya sering cerita dengan anak-anak tentang kasus anak-anak dijalanan untuk membuat mereka sadar bahwa ada banyak hal yang sudah seharusnya kita syukuri. Sayangnya ketika saya cerita hal tersebut, 4 anak itu tidak pernah masuk. Bagaimana dengan orang tua mereka Ah, mereka mempunyai seribu cara untuk mengelabui orang yang seharusnya mereka hormati dan perjuangkan harapannya. Ada 1 anak yang sudah minta uang utuk piknik ke Bali. Tetapi dianya ternyata nggak ikut. Namun dengan “kecerdasannya” ia memberikan kaos bertuliskan “Bali” ke ibunya. Cerdas bukan? Yeess, mereka cerdas seperti para koruptor -_-”

Ah, 2 kondisi yang sangat “njomplang” yang membuat saya betul-betul belajar bahwasannya dunia ini saaangat luas. Berbagai masalah yang dirasa berat, sebenarnya ngga berat-berat amat. Kitanya aja yang nganggepnya lebay. Hidup rasanya nggak adil. Ujung-ujungnya nyalahin Allah. Banyak ngeluh, “Ya Allaaaaah. Kenapa sih engkau kasih cobaan yang begitu berat padaku. Engkau kan tahu aku tidak kuat ya Raaaabbbb…”. Ini orang aneh, udah jelas-jelas Allah nggak akan kasih cobaan diluar kemampuan hambaNya. Malah nyalahke -_-

Maka sahabat, apapun yang terjadi, seberat apapun masalah kita jangan pernah mengatakan “aku tidak kuat ya Allah,”. Tapi berkatalah “Ya Allah, kuatkan aku..” . Bukan berdoa “Ya Allah, mudahkan jalanMu..” Tetapi “Kuatkan aku untuk meniti jalanMu”. Karena sesungguhnya jalan itu sudah Allah tentukan. Kuncinya adalah pada diri kita. Saya juga masih belajar tentang penyampaian doa ini Sesekali saya mengatakan “Ya Allaaah, mudahkanla jalanMu. Eh salah ding.., Kuatkan ya Allah….” . hehehe..

Inilah perjalanan hidup yang harus kita tempuh. Perbanyaklah bertemu dengan orang-orang baru disekitarmu agar kamu lebih bisa banyak belajar dari orang lain dan mengambil hikmah kehidupan yang sangat beragam. Jangan asyik dengan dunia sendiri dan terkungkung dalam zona nyaman yang melenakan. Tugas kita menjadi khalifah di bumi untuk setidaknya bisa memberikan dampak positif bagi orang-orang disekitar kita. Setidaknya ita bisa menjumpai hal-hal untuk menjadikan alasan kita tetap bersyukur pada Allah. Lihatlah ke atas untuk bekal kesuksesan dunia akhiratmu, dan lihatlah kebawah bahwa suksesmu tak akan berarti saat orang-orang belum merasakan nikmat seperti yang kamu rasakan.

Tetap semangat! Carilah hikmah dari sekelilingmu yang karenanya lah kita tahu apa arti hidup kita dan akan dibawa kemana arah atau tujuan hidup yang sebenarnya. Jangan pernah merasa tenang saat sekelilingmu masih belum bisa menikmati indahnya fasilitas yang Allah berikan di dunia dengan segala upaya untuk meraih derajat kehidupan yang lebih tinggi kelak dikemudian hari. Ya, Surga…

Wallahualam Bishawab 🙂


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar