Saat Orang Tua Berkata : “NGGAK BOLEH!”
Uncategorized
April 8, 2015
0

“Nggak boleh! Mau jadi apa kamu nanti?”

Barangkali kalimat itu seringkali didengar bagi sebagian orang yang memiliki perbedaan pendapat dengan orang tuanya. Terkadang orang tua bahkan seringkali tak sependapat dengan apa yang kita inginkan, termasuk soal mimpi. Bisa jadi karena orang tua kita terlalu sayang dengan kita sehingga mereka menginginkan yang terbaik untuk anaknya, atau hanya karena ambisi mereka di masa lampau yang tidak terpenuhi sehingga berharap agar anak-anaknya mengikuti jejak langkahnya yang tertunda. “Ridhanya Allah, adalah ridha orang tua”. Rasanya hadits itu akan selalu terngiang saat pertengkaran mengenai visi antara anak dan orang tua terjadi. Sang anak yang sudah memiliki keinginan untuk melangkah meraih mimpinya namun tak sejalan dengan orang tuanya membuat ia harus rela sedikit bersabar. Ya, bersabar agar semua berjalan dengan lancar dan mimpinya kelak tidak menjadi bumerang bagi dirinya.

Saya pribadi cenderung anak yang penurut. Sejak SD hingga kuliah pun, saya lebih menurut kata Ibu saya. Alasannya simpel “Nurut itu enak dan selamat”, begitu anggapan saya. Namun, disisi lain ada hal yang sebenarnya tidak saya sadari bahwa itu semua karena saya belum mengetahui apa passion saya, sehingga saat hendak meneruskan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, saya ragu untuk mengikuti keinginan hati. Maka jadilah pendapat ibu menjadi salah satu tameng agar tetap “selamat”.

Di lain kasus, adapula orang-orang yang sudah yakin dengan passion serta mimpinya. Ia sudah sangat ambisius dengan bidang yang ingin digeluti, namun orang tuanyalah yang dengan keras menolak ambisinya tersebut. Alasannya? Bisa jadi karena dana atau karena takut kehilangan anaknya yang hendak merantau. Lantas, apa yang harus kita lakukan jika keyakinan kita bertolak belakang dengan orang tua kita? Pantaskah kita untuk tetap “ngeyel” dan mau tidak mau harus bertengkar dengan mereka, sedangkan haram hukumnya menyakiti hati orang tua kita. Saya yakin, ini akan menjadi sebuah dilema yang amat besar bagi orang-orang yang merasakan hal demikian.

Ada sebuah cerita dari seorang anak SMA yang berkeinginan keras masuk ke Fakultas Kedokteran di salah satu Universitas yang ia inginkan. Ibunya amat mendukung dan sudah meyiapkan tabungan untuk bekal pendidikan anaknya kelak meskipun memang belum cukup jika targetnya ialah fakultas kedokteran yang kita tahu biayanya tak sedikit. Namun sang ibu terus menyemangati anaknya untuk tetap berjuang diatas mimpinya.

Namun, hambatan justru terletak pada sang Ayah. Ayahnya begitu kaget saat tahu anaknya ingin masuk kedokteran sang ayah pun berkata “Memangnya kamu anaknya siapa? Kok bisa-bisanya punya cita-cita setinggi itu? Mbok yang rasional sedikit! Duit darimana coba!”. Sang anak tentu merasa begitu terpojok saat semangatnya mulai membara karena motivasi dari sang ibu, kemudian dijatuhkan dengan kecaman sang ayah. Lantas, apa yang ikatakan sang anak?

“Pak, Allah itu kaya, Pak. Allah itu Maha Besar. Barangkali secara nyata rasanya aneh, tapi ingat kita punya Allah yang maha segalanya yang bisa memberikan apapun yang kita mau. Berdoa itu tak pernah salah, dan ketika kita berdoa maka berdoalah untuk meminta keinginan yang besar sekalian, jangan nanggung. Apapun Allah itu bisa, kenapa kita ragu untuk memita sesuatu yang bagi Allah amatlah mudah?”. Begitu kata sang anak dengan segenap kelembutan hatinya. Ia yang begitu terjaga ibadahnya, tentulah dengan mudah mengatakan hal demikian. Tidak ada nada tinggi yang terucap. Dengan pancaran mata yang berkaca namun ada semangat membara yang terselip dalam tatapannya yang membuat ayahnya terdiam.

Singkat cerita, sang anak merasa bahwa meskipun ia telah berkata demikian, ayahnya tetap tidak menyetujuinya dan beranggapan untuk pasrah saja’ dengan keinginan orang tuanya. Ia sudah tidak tahu bagaimana caranya agar sang ayah mau mendukungnya, sehngga ia berkata pada ibunya “Bu, ya sudah lah jika memang ini bukan jalanku. Udahah pasrah aja”. Ibunya menjawab “Lhoo, kamu itu plin-plan! Kemarin lha semangat banget, baru digituin sama Bapak aja loyo! Padahal kemarin Bapak udah bilan sama Ibu dan beliau akhirnya setuju dengan keinginanmu. Wes, sekarang belajar yang giat, dan kejar impianmu!”. Dan pancaran api semangat pun kembali menggelora di wajah sang anak.

Sahabat, jangan sampai mimpi kita menjadi tabir yang bisa menghalangi ridha Allah terhadap kita. Memang tidaklah mudah saat keinginan besar yang sudah direncanakan secara matang tiba-tiba menemui hambatan yang justru datang dari orang terdekat kita. Bukan dengan cara marah ataupun beradu ambisi, namun gunakanlah caraNya. Ya, cara Allah lah yang terbaik. Apa itu? Doa. “Hey! Semua orang juga tahu itu!” Ya, semua orang tahu, namun ketika doanya tidak mereka utamakan dan benar-benar diyakini, maka syetanlah yang akan mengambil alih. Terjadilah pertengkaran.

Buktikan dengan kekuatan Iman dan Ilmu. Kekuatan doa tak akan pernah terkalahkan oleh apapun. Saat kamu percaya bahwa Allah akan memberikan yang terbaik dan usahamu untuk terus menimba ilmu secara maksimal maka percayalah bahwa keimanan itu akan senantiasa terpancar dan memberikan dampak positif. Allah sang maha pembolak-balik hati. Orang tua hanya butuh bukti dan keyakinan atas keinginan anaknya. Pastikan dan berilah mereka sebuah bukti nyata bahwa anaknya memunyai tekad yang besar dan itu semua dipersembahkan untuk mereka, orang tua. Yakinkan dengan ibadah yang prima serta semangat juang yang tinggi yang dibuktikan dengan prestasi gemilang. Bahkan jika sudah demikian, tanpa sedikitpun kata terucap, dengan bukti nyata itulah boleh jadi orang tua kita akan luluh. Karena apa? Saat kita sudah bisa mengambil perhatian Allah, maka semua akan terasa mudah.

Jadi, sudah tahu kan, apa yang harus kau katakan pada Ibu dan Ayahmu? 🙂


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar