“Putuskan Sekarang! Mau Jadi Apa?” by @aditriasmara
Uncategorized
June 28, 2015
0

Beberapa waktu yang lalu saya baru saja merapikan isi folder-folder yang ada di laptop saya, salah satu yang menjadi subjek nya sudah pasti adalah folder FOTO. Jenaka sekali ketika melihat ke dalam folder yang sudah cukup lama tidak saya buka. Seolah folder itu berisikan ‘catatan sejarah’ seorang Adi Triasmara yang kelak akan menjadi bagian dari biografi saya, atau at least menjadi cerita bagi anak cucu saya kelak ketika telah menua bersama usia nanti..hehe..

Mengapa koleksi foto itu terlihat jenaka? Sederhana sekali, ada begitu banyak foto pribadi saya dengan ‘background profesi’ yang berbeda. Di masa SD, ada sebuah foto dimana saya sedang berada di pinggiran kolam renang setelah melakukan kompetisi atau perlombaan renang se-Kabupaten yang dilaksanakan di kota kelahiran saya, Cilacap. Saat itu saya memang sedikit ‘didoktrin’ oleh Ayah untuk menjadi seorang anak yang handal dalam berenang, walau akhhirnya tidak pernah menang dalam perlombaan..hehe.. Memasuki masa SMP, ada foto saya bersama dengan tim basket SMP dimana saya mengenakan kostum bernomor punggung 78 dengan nama ‘Dimas’. Saat itu saya sekedar mencoba-coba dan mengikuti trend dimana ada anggapan bahwa ‘cowo basket’ itu keren. Dan setelah menjadi anggota tim basket, saya pun merasakannya: menjadi keren. Ah, atau mungkin memang saya sudah keren dari lahir ya? Hehe.. Kemudian? 

Bergeser ke masa SMA dimana begitu banyak foto dengan background lapangan utama Jati Persada Cilacap, dimana seorang Adi Triasmara berjibaku di atas lapangan bahkan sempat mendapatkan kartu merah dalam sebuah pertandingan melawan anggota Polres Cilacap. Ya, masa-masa awal SMA saya habiskan menjadi pemain sepak bola dalam sebuah sekolah sepak bola yang cukup ternama di kota saya, SSB GSP Force. Selain itu, saya juga anggota kreatifitas seni rupa sewaktu SMA bernama VISTARA (Kreativitas Tiada tara). Apa kegiatan favorit saya dan teman-teman? NGE-BOOM! Alias pergi dari satu tembok ke tembok lain melukiskan graffiti-graffiti penuh warna yang menjadi ‘canvas’ kreativitas saya dan teman-teman.

Tak berhenti disitu, menjelang kelulusan SMA, ada beberapa koleksi foto dimana saya terlihat berada di dalam sebuah studio music, bahkan diatas panggung music, dengan gitar elektrik kesukaan saya. Saya mulai merambah dunia musik. Memasuki masa perkuliahan, saya semakin mendalami dunia music hingga sempat melakukan rekaman semi-professional bersama dengan teman-teman satu group band saya dan menghasilkan dua buah lagu yang saya upload di soundcloud pribadi saya. Tak hanya itu, saya dan teman-teman ‘ESPRESSO Akustik’ pun sering mengisi beberapa panggung music kampus dan juga sebagai pengisi acara di beberapa café gaul di kota gudeg, Jogjakarta. ‘Berhenti’ bermain musik, tertarik memasuki dunia martial arts atau beladiri.

Saya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu grupo Capoeira di Jogjakarta. Saya belajar seni beladiri asal Brazil itu dan menikmati nya dengan sungguh-sungguh. Belum tuntas belajar Capoeira, saya tergoda dengan ‘keren’ nya Thai Boxing, Kungfu, Karate, hingga MMA (Mixed Martial Arts). Tapi akhirnya saya fokus di Capoeira.

Lalu saya menilik folder FOTO di tahun 2014-2015. Foto bersama teman-teman LTMI (Lingkar Trainer Muda Indonesia), launching buku ‘Sekeping Cinta’, Anniversary YTA, dll. Anyway, foto saya bersama Founder CerdasMulia Institute, Kak Arry Rahmawan, sewaktu penyerahan piagam penghargaan Juara 1 SpeakUp Contest YTA 2 Jakarta selalu menjadi favorit saya. Apa karena seorang dengan mesin kecerdasan THINKING (ala STIFIN) memang haus akan kemenangan? Hmm..agaknya tidak juga. Foto itu saya kira lebih dari sekedar mekna kemenangan, namun foto itu menjadi sebuah TURNING POINT dalam kehidupan saya. Dalam salah satu sesi di Young Trainer Academy, salah satu guru saya, Mas Maradhika Malawa, menjelaskan bahwa ada dua pilihan dalam hidup kita: a) kita terdesain oleh hidup, atau b) kita yang mendesain hidup kita.

Moment itu seolah membuat saya sadar bahwa mungkin selama ini saya terlena dengan ‘trend’ yang ada. Saya terus berputar-putar menjadi apa yang menurut saya ‘keren’ pada masanya. Saya menjadi ‘kucing yang terus menerus berusaha menangkap ekornya sendiri’, berputar tanpa arah kemajuan dan peningkatan kelas yang jelas.

“Sob, jangan-jangan kamu sedang terjebak dengan TREND menjadi seorang trainer?”

InshaaAllah tidak, sahabat 🙂 Selain dari Kak Arry Rahmawan dan Mas Maradhika Malawa, saya juga belajar banyak dari mas Andra Donatta, salah satu master trainer dalam program Young Trainer Academy. Bahwa profesi trainer adalah sebuah profesi memperbaiki orang lain melalui jalur perbaikan diri. Bahwa menjadi trainer bukan hanya riuh tepuk tangan penonton saat kita mengucapkan, “sekian dari saya, terimakasih!”. Menjadi seorang trainer membuka kesempatan kita untuk meninggalkan LEGACY bagi generasi peradaban manusia berikutnya. LEGACY, LEGACY, LEGACY. Menjadi seorang trainer juga berarti memutuskan untuk menjadi seorang ROLE MODEL, melalukan apa yang ia katakan dan mengatakan apa yang ia lakukan.

Selain menjadi trainer, yang fokus pada dunia bahasa Inggris dan creative slide design, saya juga memutuskan untuk fokus belajar dan megembangkan diri sebagai seorang digital creator dan entrepreneur. Anyway, itu adalah pilihan saya. Bagaimana dengan sahabat CerdasMulia semua?

Putuskan sekarang. Mau jadi apa? DESIGN YOUR LIFE or BE DESIGNED BY OTHERS’ LIFE.


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar