Muslimah Cerdas dan Mulia
Uncategorized
March 20, 2015
1

Wanita adalah perhiasan dunia. Kehormatannya patut dijaga dengan bungkus ketaqwaan kepadaNya. Perangainya yang menyenangkan, tutur katanya yang meneduhkan dan sikapnya yang selalu menjadi pedoman. Kontribusinya sesekali tak terlihat namun otaknya senantiasa berpikir. Berpikir bagaimana kelak dapat menghasilkan generasi penerus yang bisa mengguncang dunia. Kecerdasan akhlaknya membuat ia pandai bagaimana memilih pergaulan. Prinsip yang tetap mereka pegang dengan teguh untuk menjaga izzahnya. Sesekali ketika hatinya mulai tersentuh dengan bisikan syetan, maka ingatannya langsung terpaut dengan Tuhannya. “Ya Allah, luruskan niat hambaMu, teguhkan hamba untuk berjuang di jalanMu, matikan penyakit hati yang ada didadaku”. Ya, Muslimah, sang pembangun peradaban.

Barangkali diantara kita kaum wanita mempunyai berbagai impian yang berebeda. Berasal dari latar belakang dan passion yang berbeda membuat kita semakin kaya akan perbedaan. Namun ukhti, percayalah meski passion kita berbeda, visi dalam hidup kita haruslah sama yakni untuk mengejar ridha Illahi. Karena sungguh, impian kita di dunia sangat mudah kita dapatkan jika hanya sekedar bagaimana mendapatkan gaji yang besar, wajah yang cantik, pakaian yang bagus, dan semua yang berbau keduniawian. Jika impian kita hanya sebatas “good looking” atau mendapatkan pekerjaan yang layak, maka itu semua belum tentu bisa menjamin kita diakhirat kelak. Oleh karena itu, visi harus kita tetapkan diawal yakni “mengejar ridha Illahi”, agar apa? Agar setiap langkah kita dalam menentukan masa depan tidak salah arah. Saat Allah yang menjadi alasan maka kita tidak pernah bingung saat gaji yang kita terima tidak seperti yang diharapkan, saat orang-orang memandang sebelah mata dengan jilbab yang kita kenakan, dll. Banyak para wanita yang rela menanggalkan jilbabnya dengan alasan “pekerjaanku menuntutku untuk melepas jilbab”. Fenomena ini banyak saya temui. Gaji oke, tapi Allah ridhakah?

*

IMAN

Orang tua takut maksiat itu hebat, namun jika ada anak muda yang takut maksiat, jauh lebih mantap. Saat keimanan mulai terpancar dari wajah, maka saat itulah dunia dan seisinya takjub. Takjub atas perjuangan untuk mengakkan syariah dalam keadaan dunia yang sudah tidak kondusif. Keimanan akan senantiasa terpancar tanpa kita mengungkapkan. Wajah akan senantiasa berkata tanpa lisan bergerak. Itulan keimanan.
Menjadi seorang muslimah yang teguh akhlaknya tentu ialah kunci utama dalam sebuah proses kehidupan. Itulah mengapa Iman diletakkan diawal. Ia akan senantiasa menjadi benteng pertahanan untuk dijadikan alasan seorang hamba yang takut dengan Tuhannya. Kehidupan yang senantiasa ia gunakan sebagai ladang untuk menebar kebaikan membuat mereka begitu bersemangat dalam meningkatkan kualitas ibadahnya. Rumahnya dijadikan tempat untuk menjadi gudang amunisi saat ia melangkahkan kaki keluar. Amunisi berupa ibadah wajib dan sunnahnya, tilawahnya, serta hafalannya yang ia jadikan sebagai tameng untuk menghindarkan diri dari segala gejolak nafsu duniawi. Ketakutan akan Tuhannya melebihi takutnya kehilangan nyawa sekalipun. Dalam pikirannya hanyalah “Bagaimana agar ketika kelak malaikat bertanya kelak, aku bisa menjawabnya dengan begitu mudah”. Tangguhnya iman, seakan membuat setiap langkahnya bernilai kebaikan. Ia tahu apa yang bisa mendatangkan manfaat dan mana yang bisa mendatangkan adzab. Hatinya selalu terpaut dengan Allah SWT yang membuatnya ragu untuk merasakan kecewa. Kecewa adalah musuhnya. Ia tak pernah merasa menyesal karena tahu bahwa semua yang terjadi padanya ialah atas kehendakNya, dan begitu pahamnya akan hal tersebut maka ia pergunakan sebagai bahan pelajaran dan tentu mengambil hikmah adalah utamanya. Wanita shaliha.

ILMU

Menjadi seorang musimah haruslah cerdas. Meskipun ujung-ujungnya akan menjadi seorang ibu rumah tangga dan mau tidak mau berkutat dengan cucian, kain pel, setrika, dan peralatan rumah tangga lainnya yang tanpa sekolah pun, orang bisa melakukannya. Lantas, jika demikian apakah kita bisa menggunakan alasan “Ngapain capek-capek sekolah apalagi sampai kuliah kalau akhirnya cuma jadi ibu-ibu biasa? Nggak keren!”. Hush! Justru ini letak kerennya, ukh! Percaya nggak, jadi Ibu Rumah Tangga (IRT) pun harus profesional. Coba bayangin, kalau kita jadi seorang ibu, tapi kita ngak ngerti tentang kurikulum pendidikan sekolah anak kita. Jadi ibu rumah tangga tapi nggak ngerti perkembangan informasi baik sains, sosial, politik, dsb. Mau jadi apa anak kita kalau ibunya cuma sekedar ngerti yang penting anakku ku kasih makan, sangu, beres”. Ya nggak bisa gitu! Ingat Musa? Iya Musa seorang hafiz cilik yang berusia 6 tahun, ketika Abinya ditanya apa resepnya bisa mempunnyai anak seperti Musa? Sang Abi berkata “Carilah istri yang shaliha”. Ya, shaliha dan cerdas tentunya. Wanita itu memiliki andil besar dalam segala aspek, meskipun ia bekerja dibalik layar. Musa bisa begitu cerdas tidak lain pasti karena kecerdasan ibunya pula yang bisa mengarahkan anaknya untuk bisa mencintai Qur’an, menasihati, membimbing, mengajarkan bayak hal.

Bahkan, seorang Dian Sastro saja ingin melanjutkan pendidikan S2nya, padahal semenjak menikah ia rela menahan aktivitasnya untuk menjadi seorang ibu rumah tangga. Ia berkata bahwa “anakku kelak wajib mendapatkan seorang ibu yang cerdas”. Jika para guru atau dosen saja rela sekolah tinggi buat mendidik anak orang, masa kita nggak rela sekolah buat mendidik anak sendiri? Namun, terlepas dari itu semua, bahwasannya Ilmu di dunia ini seluas lautan yang apabila pohon sebagai pena dan air laut adalah tintanya, maka ilmu Allah tidak akan habis meski diganti dengan nilai yang sama (Al Kahfi : 109). Itulah yang menjadikan alasan kita untuk selalu berjihad dalam mencari ilmu. Jika kita bisa membeli banyak barang-barang yang kita inginkan dan akhirnya bisa jadi barang tersebut hanya tergeletak atau tertumpuk maka barang tersebut bisa menjadi mubadzir. Beda dengan ilmu. Sebanyak apapun ilmu yang kita peroleh, maka ia tidak akan pernah menjadi mubadzir. Memangnya ada orang-orang menyebut “Aaah, mubadzir banget nih ilmunya nggak dipake”. Ada kah? Ada. Lho kok ada? Katanya nggak ada mubadzir ilmu? Ya ada orang-orang yang mengatakan demikian ketika pekerjaannya tidak sesuai dengan latar belakang pendidikannya. Sarjana pertanian kerja di bank, misalnya. Bagi orang awam tentu mengatakan mubadzir, namun bagi Allah tidak karena ia tetap akan menjadi saksi diakhirat kelak.

Menjadi muslimah cerdas di masa kini juga berguna untuk menghadapi moduser-moduser yang berkeliaran. Jangan bisanya cuma jadi muslimah yang lembut hatinya, saking lembutnya di goda dikit langsung ambruk pertahanannya. Yaaah, jangan lemah-lemah amat, Ukh! Semangat dong! *loh. Saat otak sudah tidak bisa lagi mengendalikan hati, maka saat itulah musibah bagi wanita datang seketika. Wanita mempunyai 9 nafsu dan 1 otak, maksudnya ialah saat ia mampu mengendalikan otaknya, maka tertutuplah hawa nafsunya. Sedang pria, mempunyai 9 otak dan 1 nafsu. Sudah bukan rahasia jika pria mempunyai kecerdasan yang lebih dibandingkan wanita. Namun, saat 1 nafsunya tidak bisa dikendalikan, maka 9 otaknya tidak akan berfungsi lagi. Isn’t right? Yes, RIGHT! Kebanyakan dari kita, wanita, seringkali hanya mengandalkan perasaan. Apa-apa alasannya “hatiku tidak sejalan dengan otakku, aku sayang sama dia”, dll. Itulah peran ilmu. Andai saja ia mengaktifkan otaknya yang 1 itu, ia mengingat mengenai ilmu yang sudah dipelajari tentang ayat-ayat Allah, mengingat tentang mimpi besarnya untuk bisa membangun peradaban, mengingat tentang perjuangan orang tuanya dan tentu perjuangan dalam meneguhkan kehormatannya, maka percayalah, kita akan menjadi muslimah yang tahan banting dalam arti kata tidak mudah luluh dengan rayuan maut si moduser.

Saat ia memutuskan untuk bekerja pun, ia tahu mana pekerjaan yang bisa membuat dirinya tetap bisa mengurus rumah tangganya. Karena ia belajar maka ia tahu bahwa kemuliaan wanita adalah ketika di dalam rumah dimana setiap pekerjaan rumah tangga pahalanya 10x lipat lebih banyak. Bekerja bagi wanita itu diperbolehkan bagi wanita, namun ia tidak boleh beralasan “aku kan capek, jadi urusan rumah agak kacau deh”. Itu yang tidak boleh. Mengurus rumah itu wajib, dan bekerja itu mubah. Oleh karena itu, jika kondisi ekonomi menuntut istri untuk bekerja, maka tidak masalah asalkan urusan rumah tetap beres dan tentu suaminya pun ridha.

Jadi ukhti, menjadi muslimah itu harus cerdas akalnya. Ia terus mengasah akalnya hingga kecerdasanlah yang justru meminta untuk dilekatkan di otaknya. Wawasannya luas, ide-idenya brilian, daya ingatnya kuat. Ia menjadi pribadi yang cerdas akalnya dan tinggi intelektualitasnya.

Juga cerdas dalam ilmu agamanya. Keilmuan yang sangat di prioritaskan oleh Islam adalah keilmuan yang bersangkutan dengan perintah agama. Ia sangat cinta belajar. Ia belajar agama dengan orang yang tepat, ia mengkaji agama dengan giat, ia berkomunitas dengan komunitas religi yang hebat. So, Jadilah Muslimah yang cerdas dan mulia!

IMPACT

Saat ia mampu mengolah hati dan pikirannya maka sudah selayaknya ia bisa menginspirasi sesamanya. Menjadi muslimah berdampak tentu semua menginginkan. Muslimah yang cerdas dan beriman tentu tahu bahwa berdakwah mempunyai nilai amal jariyah yang besar. Tentunya, ia akan memanfaatkan momentum itu dengan baik. Saat hati dan pikirannya sudah begitu memadai, maka berikutnya ialah lisan dan lakunya yang bekerja. Ya, ia tahu bahwa nikmatnya iman tidak hanya bisa dinikmati oleh keluarganya saja, namun juga wajib dirasakan oleh lingkungan sekitarnya. Atas dasar alasan tulah, ia mulai menebar kebaikan. Namun yang perlu diingat ialah, untuk bisa berdampak, kita harus mempunyai 2 modal utama yakni Iman dan Ilmu. Benih yang sudah ditanam tadi barulah bisa kita sirami dan diberi pupuk dengan cara berjuang utuk menebar kebaikan. Pada akhirnya barulah di akhir ia sudah bisa memanen pahala atas apa yang ia lakukan. Pahala ibadah, meningkatkan ilmu dan berdakwah. Lengkap sudah! Panen sukses! Mission completed!

Rumus IMAN, ILMU dan IMPACT . 3 kata itu tidak bisa dipisahkan. Ia menjadi paket komplit untuk menuju peradaban yang Cerdas dan Mulia.

Jadi, sudah siap wahai engkau para calon ibu untuk mengguncang dunia?

Kunci perbaikan bangsa ini terletak pada perempuan..
Pada penjagaan diri dan kehormatannya..
Pada rahim subur yang akan melahirkan generasi yang lebih baik dan pemimpin-pemimpin selanjutnya..
Pada kelembutan dan kasih sayangnya yang mampu membelai dan menentramkan semesta..
Salam hormat padamu, ukhti..

Referensi : Buku “The Perfect Muslimah”, Ahmad Rifai Rif’an
Buku “Sekeping Cinta”, CerdasMulia Institute


  1. Jazakillah khair ukhti.
    Setelah membaca saya semakin memahami bahwa ilmu Allah itu luas. Dan tidak mengartikan ilmu dlm pandangan yg sempit seperti contoh tulisan diatas ngapain sekolah tinggi” toh nnt jg ngurusin dapur?, atau ngapain kerja di bidang yg tidak sesuai backgorund ilmunya?
    Yah itu banyak sekali saya temukan diantara teman” sejawat.

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar