Membulatkan Tekad Untuk Membersamaimu
Uncategorized
August 12, 2015
2

Bismillahirrahmanirrahim..

Hari ini tepat 18 hari yang lalu sebuah ikrar janji suci diungkapkan oleh seorang lelaki yang saya pilih untuk menjadi pendamping hidup saya. Menjadi seorang istri dengan usia yang relatif cukup muda yakni 19 tahun dan masih duduk dibangku kuliah semester 5, merupakan sebuah tantangan sekaligus momentum dimana ibarat sebuah tugas yang belum selesai, namun sudah ditambah tugas baru lagi. Pada mulanya, saya ragu untuk mengambil keputusan ini, dengan alasan masih ingin melanjutkan studi dan segalq cita-cita yang ingin saya capai di masa muda. Namun, tatkala ibu saya berkata pada saat setelah ia datang menemui ibu, “Mba, jika sudah ada perasaan “lain”, maka akan sangat sulit ke depan untuk menghadapinya. Akan terasa sebentar saat kalian menunggu dalam sebuah ikatan dibanding menunggu tanpa ikatan. Jika sholat saja tidak boleh ditunda begitupun dengan menikah yang juga merupakan salah satu ibadah kepada Allah yang harus disegerakan. Yakin saja”.

Kalimat itu senantiasa terngiang dalam benak saya dan malamnya saya memutuskan untuk melanjutkan proses perkenalan. Dan tak lama ia betul-betul serius datang kerumah untuk menemui keluarga besar. Kemudian secara bergantian keluarga kami yang berkunjung untuk silaturahim ke keluarganya dan selanjutnya betul-betul terjadi proses lamaran dan akhirnya ikatan suci itu terucap dari lisan seorang lelaki bernama Radityo Fajar Priambodo.

Ku putuskan untuk menggenap.

Tatkala hati sudah terpaut kepadaNya untuk senantiasa meminta keridhaanNya, maka seolah ada sebuah lecutan besar dalam diri bahwa akan ada masa dimana setiap laku kita mendatangkan pahala berlipat hingga 10x, apabila seorang wanita sudah memutuskan untuk menggenap. Itu pula yang sekarang ini menjadi semangat luar biasa dalam diri saya saat pekerjaan rumah atau lainnya begitu banyak, namun serasa tak ada beban karena iming-iming “10 kali lipat pahala!” selalu terbayang. Apa sebabnya? Karena wanita telah meredam segala ambisi dalam hidupnya untuk bisa mengabdi terhadap suaminya. Itulah kenpaa Allah janjikan 10x lipat pahala disetiap langkah seorang istri yang senantiasa berbakti terhadap suaminya. Subhanallah. Yah meskipun kadang suami saya menjadikan itu sebuah bahan candaan saat sedang bergurau mengutus saya seraya mengatakan “eeeh, nggak boleh males, 10 kali lipat lho!!” dan saya pun tertawa kala ia mengatakan demikian.

Indahnya sebuah kebersamaan

Indahya kebersamaan dua insan yang dipersatukan didalam naungannya. Romantisme yang digambarkan orang-orang rasanya tidak seberapa dengan yang dirasakan. Seperti kata orang bilang bahwa es jeruk tidak akan terasa nikmat jika hanya diceritakan rasanya. Es jeruk akan terasa nikmat jika orangnya merasakan sendiri kenikmatannya. Begitupun dengan sebuah proses kebahagiaan dalam rumah tangga. Semakin saya mensyukuri nikmat yang Allah berikan, semakin membuat saya sadar saat melihat orang-orang yang sedang dirundung asmara namun salah mengaplikasikannya, maka hanya ada dosa dan rasa bersalah terhadap Allah yang selalu menghampiri. Kebahagiaan pacaran yang semu, yang sama sekali tidak mendatangkan pahala atau bahkan penuh dengan dosa yang bergelimang. Berbeda halnya dengan menikah yang semua aktivitasnya berupa kebaikan.

Tak semudah yang dibayangkan

Menikah jika dibayangkan seperti paragraf diatas rasanya sangat mudah dan indahnya saja. Namun saat betul-betul meniatkannya, akan ada segudang ujian yang silih berganti. Baik faktor internal dari diri kita maupun eksternal dari berbagai pendapat orang-orang sekeliling yag terkadang begitu sangat mendukung atau justru malah sebaliknya bahkan sampai memarahi. Hal itu wajar, bagi kami itu adalah bumbu penyedap masa pra-nikah sebagai tanda bahwa menggenapkan separuh agama, tentu ujiannya tidaklah semulus jalan tol. Bahkan jalan tol saja masih ada belokannya bukan? Hehe
Mulai menyatukan mimpi bersama

Sebelum menikah, saya mempunyai banyak sekali target hidup dalam diri saya yang sedang diperjuangkan. Begitu pula dengan suami saya. Namun, atas kehendak Allah kita mempunyai visi yang sama yakni bagaimana bisa mnginspirasi banyak orang dengan segala yang ilmu yang kita miliki dan membangun peradaban yang berakhlakul karimah. Pentingnya menyamakan persepsi hidup saat proses perkenalan menjadi sebuah “syarat khusus” agar kedepan setiap langkah yang kita lakukan saat sudah menyandang status sebagai seorang suami dan istri tidaklah kaget. Sehingga begitu “SAH” maka selanjutnya ialah melakukan terget-target yang sudah dibuat agar langkah kedepan bisa lebih produktif. Namun, itu semua membutuhkan sebuah kesabaran. 2 minggu menjadi istri rupanya merupakan masa orientasi bagi saya untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan baru, obrolan baru serta hal-hal baru lainnya. Terlebih kami yang masih harus tinggal bersama mertua. Memang, idealnya setelah berkeluarga, kita bisa tinggal dirumah sendiri dan membangun kebiasaan keluarga kita, namun nyatanya saat orang tua masih membutuhkan perhatian terlebih faktor usia dan kesehatan, maka jangan jadikan itu sebagai beban. Anggap itu sebagai hikmah yang Allah berikan agar kita bisa meraih pahala yang lebih banyak, tidak hanya pahala dari berakti pada suami, namun juga pada bapak/ibu mertua. Dan yang perlu selalu diingat bahwa wanita saat sudah menikah, maka sudah sepenuhnya menjadi tanggungan suaminya, namun suami tetap milik ibunya. Maka, jadikanlah tugas tambahan ini sebagai sebuah ajang mengais pahala sebanyak-banyaknya dan percayalah, semua pasti akan ada hikmahNya. Sungguh, orang yang beruntung ialah ia yang mengetahui hikmah dibalik semua cobaan yang Allah berikan, yang demikian karena pikirannya senantiasa terpaut terhadap tuhannya.

Menikah bukan hambatan.

Menikah bukan hambatan untuk terus berkarya. Menikah bukan semata-mata membatasi baik istri maupun suami. Menikah adalah sebuah alasan kuat untuk terus memacu semangat karena kini kita mempunyai kekuatan tambahan untuk bisa menyongsong kehidupan yang lebih baik. Maka, jika ada yang megatakan menikah akan membatasi dirimu, ya memang betul. Mengapa? Tentu membatasi dari ha-hal negatif dimana kini kita bisa lebh menjaga hati dan pandangan karena sadar bahwa dirumah sudah ada istri yang senantiasa menunggu kedatangan kita dengan masakannya serta keindahan senyumannya. Begitupula dengan wanita, tak lagi terpedaya dengan rayuan-rayuan gombal orang tak dikenal karena menyadari bahwa kini ia sudah ada yang memiliki. Maka jika sudah demikian, tugas selajutnya ialah bagaimana agar tidak terjerumus dalam cinta buta dimana istri yang meunya nempel terus dengan suaminya yang justru malah menghambat pergerakan suami. Ingat, bahwa pondasi rumah tangga ada pada wanita, maka mulai dari sekarang persiapkanlah diri kalian muali dari tukang masak, tukang laundry, tukang pijet, menteri keuangan, hingga motivator dalam keluarga. Kalau saya sedang mijitin atau masakin suami, biasanya saya suka bergurau dengan mengatakan “Pintar kamu mas, menikahnya cepet-cepet. Biar bisa dapet paket komplit mulai dari tukang masak, tukang laundry, tukang pijet, menteri keuangan, tukang bersih-bersih sampe perawat”. Hahahaha. Suami saya tertawa begitupun dengan saya. Kok kelihatannya susah banget sih? Eeeeh ingat! 10x lipat pahala! Wkwkwkwk. Seru ya? Iya doooong, makanya nikah :p *kompor*

Jangan terlena dengan keadaan

Saat moentum awal ini, jujur saja saya masih menikmati kebersamaan berdua, mengenal satu sama lain lebih dalam dengan kebiasaan-kebiasaan baru. Terkadang sama-sama menertawai diri dengan mengatakan “ya ampun, kamu kok kayak aku banget sih!” atau “Kamu ikut-ikutan aku ya!” dan endingnya “Emang ya, jodoh itu cerminan diri kita”. Dan semua itu dibawakan dengan penuh canda tawa dalam kehangatan cinta yang mulai bersemi. Bumbu malu selalu menyertai saat enggan mengungkapkan kerinduan karena masih belum terbiasa. Aah, rasanya sulit sekali diceritakan. Maka, minumlah es jeruk sendiri ya! Hihihi . Namun, keindahan itu jangan sampai membuat kita terlena, ingat bahwasannya suami/istri kita ialah amanah dari Allah yang harus kita jaga.

Ingat amanah dakwah

Salah satu PR terberat seorang suami/istri ialah bagaimana agar tetap bisa mencintai Allah dengan segala amalan-amalan serta ibadah kepadaNya dibanding dengan suaminya. Allah tetap harus yang nomor 1. Jika sebelum menikah qiyamul lai tak pernah bolong, maka seharusnya setelah menikah justru semakin semangat dan menambah rakaatnya. Idealnya begitu. Namun, godaan syetan akan terus mencecar saat kita mulai lupa atas niatan menikah itu sendiri. Amanah dakwah diluar sana yang masih membutuhkan pemikiran kita jangan sampai terlantar begitu saja sedang kita hanya berfokus pada diri kita atau suami kita. Memang, berbakti terhadap suami ialah nomor 1 (untuk istri) tetapi saat peratuan 2 insan itu bisa menimbulkan dampak positif lebih baik, kenapa tidak? Itulah kenapa kita dituntut untuk mendapatkan pasangan yang satu visi. Walaupun berbeda ebiasaan, namun setidaknya memiliki muara yang sama yakn bagaimana untuk bisa bermanfaat bagi umat dengan caranya masing-masing 🙂

Menanti SurgaNya

Bahwasannya, segala yang kita lakukan semata-mata untuk mencari rida Allah agar kelak kita bsa dipersatukan di surganya Allah. Hanya itu motivasi terbesar hidup dimana mempersiapkan kehidupa di dunia untuk bekal diakhirat. Kita harus rela bersusah payah dan mengorbankan banyak hal demi untuk mencapai kebahagiaan yang kekal. Dimana kita tahu, kenikmatan hidup di dunia ini jika dibandingkan dengan kenikmatan akhirat, maka nikmat dunia hanya diibaratkan seperti telunjuk yang dicelupkan di samudera yang luas. Dan samudra ialah nikmat akhirat yang kekal.

Sahabat, sungguh ini bukanlah sebuah tugas ringan, namun percayalah saat Allah sudah mepercayaimu untuk menghadapinya maka tidak ada alasan utuk kita untuk TIDAK SIAP. Yakin dan mantapkan jika ini adalah salah satu ladang amal yang begitu banyak maka kita HARUS SIAP dengan segala konsekwensi yang dihadapi. Karena sesungguhnya, pahala yang besar tentu membutuhkan energi yang besar pula. Wallahualam BIshawab


  1. hemmmm so sweet 🙂

  2. duh, meleleh nin bacanyaa T.T
    usia mu jauh melampaui usia mental kuu..

    moga dihapuskan segala keraguan yang mel alami yaa nin

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar