Jika Kau Tak Melihatku di Surga
Uncategorized
April 1, 2015
0

Al-Hasan Al-Bashri berkata “Perbanyaklah sahabat-sahabat mu’minmu karena mereka memiliki syafaat pada hari kiamat”.

Dunia ini merupakan sebuah media yang diberikan Allah terhadap manusia agar mereka senantiasa berbuat dan menanam kebaikan yang banyak. Banyak orang di dunia ini senantiasa bekerja keras untuk mendapatkan kenyamanan serta keberlimpahan materi agar mereka bisa hidup layak dan menikmati fasilitas di dunia. Tetapi apakah hal itu menjamin mereka untuk bisa mendapatkan kehidupan yang layak saat raganya sudah tak lagi bergerak?

Barangkali diantara kita memunyai profesi yang bermacam-macam. Mulai dari kuli bangunan sampai direktur, guru, trainer, motivator, penusaha dan lainya. Kita semua bekerja dengan sepenuh jiwa untuk setidaknya bisa mendapatkan kelayakan hidup di dunia.

Tetapi apakah kita pernah berpikir tentang suatu hal yang arus di khawatirkan, kelak saat dunia ini berakhir? Saat kegelapan mulai mengahalangi tabir surya dan tak ada lagi tawa canda dunia yang mengisi. Hanya secerca iman yang menanti untuk di tanyai. Ya, mengkhawatirkan nasib kita kelak saat segala amal ke perbuatan terputus. Saat hanya ada raga yang bisa bersaksi dihdapanNya. Trainer, motivator, pengusaha, dll, hanya tinggal sebuah gelar tanpa raga. Barangkali, bagi orang-orang yang bekerja dengan sepenuh hati untuk selalu berusaha menebar kebaikan serta kebermanfaatan di muka bumi, ada hal yang paling mereka takuti. Tidak hanya guru sekolah, bahkan guru ngaji, dai dan ulama sekalipun sangat takut akan hal ini.

Ya, saat apa yang dikatakan tidak sesuai dengan apa yang dilakukan. Saat lisan berucap namun raga tetap tegap tanpa tindak. Selama ini ketika malihat guru-guru kita terlihat begitu sempurna dimata kita. Saat para aktivis berdakwah dengan segenap jiwa dan raganya. Saat hartanya dikorbankan hanya untuk membela namaNya. Namun, lantas apakah itu semua sudah menjamin kita untuk masuk ke dalam surgaNya? TIDAK!
Boleh jadi saat tahajud kita lengkap, tilawah kita banyak, hafalan kita lancar dan dakwah kita senantiasa terus dikembangkan, namun ada suatu hal yang membuat kita terhalang masuk ke surga Allah. Yang membuat Allah tidak memasukkan kita ke surgaNya. Namun justru orang-orang yang pernah kita ajak untuk mendengar perkataan kita, ia sudah menimkmati syahdunya taman surga. Sedang kita tidak bersama mereka. Lantas kemanakah kita?

Apakah kita seburuk itu sampai tak layak mendapatkan surgaNya Allah? Ya, itu hak prerogatif Allah! Maka, salah satu hal yang bisa menolongku dan kita semua adalah kamu, wahai saudaraku! Barangkali ketika di dunia, aku seringkali menasihatimu dan selalu ada disampingmu, namun saat di akhirat kelak, aku tak bersamaamu di surgaNya. Maka sahabatku, pesanku hanyalah satu. Tanyakan pada Allah. “Ya Allah, kemana saudaraku itu yang ketika masih di dunia senantiasa membantuku? Berjuang bersama di jalanMu. Kemanakah mereka, Ya Rabb? Aku ak tak melihat mereka disini, di surga ini. Dan kemudian Allah berkata, “Ambillah sahabatmu itu yang sedang di neraka. Karena engkau telah menjadi syafaat baginya”

Sungguh, itulah yang aku harapkan. Saat aku tak bersamamu kelak di surga , ambillah aku kawan! Ambillah aku untuk terus bisa bersamamu. Engkau salah satu faktor yang bisa menolong saudaramu. Maafkan aku jika aku melakukan suatu hal yang tidak kau ketahui, tapi ambillah aku yang tersiksa ini untuk bisa bergabung di surga Allah itu. Sungguh ini adalah sebuah tanda dimana kepastian hidup ialah hanya milik Allah semata. Tugas kita hanya berjuang dan berjuang. Allah tahu hati kita, tetapi kita bahkan seringkali tidak menyadari kualitas hati kita yang sebenarnya.

Maka, tidak ada profesi sebagus apapun yang bisa menjamin kita masuk ke surgaNya. Yang kita lakukan adalah bagaimana untuk selalu memberikan manfaat orang-orang disekitar kita, agar kelak mereka bisa menjadi syafaat untuk kita. Ingatkanlah saudaraku, agar aku untuk selalu berkomitmen dengan kebaikan. Percayalah, sahabatku, kelak kau akan bisa menjadi syafaatku. Jangan biarkan aku merasakan panasnya siksa neraka yang pedih. Jangan biarkan. Ajaklah aku untuk selalu disampingmu dalam naungan surgaNya. Tolonglah aku, wahai sahabatku!

Meski kami di cap sebagai guru, trainer, motivator, murabbi, pengusaha dermawan, murid berprestasi, atau apapun. Tetap saja, surga adalah hak prerogatif Allah. Ingatkanlah saat aku mulai takjub dengan diriku. Saat semua hal di mataku dinilai tak pantas untuk didapatkan orang lain dan berpikir bahwa itu hanya untukku saja. Ingatkan aku saat aku mulai kendur dalam medan juang ini. Engkau penolongku kelak, wahai sahabatku…

Wallahualam Bishawab.


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar