Hidup Tidak Hanya Untuk Uang
Uncategorized
June 22, 2015
0

Rasa syukur benar-benar saya panjatkan kepada Allah SWT, karena saya diizinkan mendapat kesempatan untuk berbuat baik demi orang banyak melalui jalan bekerja di salah satu kementrian negara. Sementara banyak orang di luar sana yang bersusah payah dan “ngebet” untuk mendapat kesempatan seperti saya.

Menjalani hal ini tidaklah terlalu mudah pada awalnya. Bagaimana tidak, saya yang notabene bukanlah orang yang terlalu senang dengan aturan-aturan yang mengikat tetapi harus melakukan hal ini. Huft. Tapi ketika mengingat bahwa tidak banyak orang mendapat kesempatan ini, maka semangat untuk menjalaninya mulai tumbuh.

Ketika saya berkumpul dengan teman-teman dimana saya menimba ilmu di salah satu LSM di Jakarta, ada banyak yang bertanya kepada saya,

 

“Kerja dimana lu Dit sekarang?” .

“Di Kementrian xxx, alhamdulillah” , sahutku.

“Wah, PNS lu yak sekarang? Enak itu, kerja nyantai, duit lumayan dah” , timpal temanku itu.

“Nah, kalau itu kaga paham dah gua” , kataku membalas jawaban temanku.

 

Saya bingung, heran, shock. Apakah bekerja sebagai PNS memang seperti itu. Padahal kalau melihat orangtua saya, mereka bekerja tidak santai, dan gajinya pun tidak terlalu besar. Tapi saya tidak pernah menanyakan tunjangan-tunjangan yang mereka dapat, karena saya tidak pernah terlalu tertarik membahas masalah itu.

Saat saya mulai bekerja, ternyata kondisi kantor khususnya bagian keuangan memang sedang ramai diperbincangkan. Hampir semua membahas masalah uang yang belum dibayar, dan lain-lain. Seru sekali untuk saya ikuti beritanya, karena terkait hajat hidup orang banyak.

Gaji tak kunjung dibayar, semua ramai. Tunjangan kinerja tak kunjung dibayar, ramai juga. Uang perjalanan dinas belum turun, ramai juga. Bahkan, perjalanan dinas yang hanya sehari untuk mengikuti kuliah umum dengan menteri, sudah ramai membahas masalah apakah ada uang yang didapat. Huft.

Saya tidak bisa dan tidak ingin menyalahkan siapapun terkait hal ini. Karena tujuan setiap orang mengambil keputusan untuk bekerja sebagai PNS berbeda-beda. Ada yang fokus pada pendidikan, ada yang fokus pada pengembangan karir, dan ada juga yang fokus pada pendapatan.

Terkait alasan yang paling akhir, memang benar semua orang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Tapi disadari atau tidak, hal itu bagi sebagian orang pasti menjadi fokus utama, khususnya bagi yang sudah berkeluarga.

Memang ketika saya menulis ini saya belum berkeluarga dan belum merasakan bagaimana rasanya ketika uang tidak kunjung hadir di tengah saya saat keluarga membutuhkan. *Mohon doa semua yang membaca agar saya segera memiliki keluarga kecil dan menikah tidak lama lagi, hehe* .

Fakta yang saya lihat di lapangan sangat menyedihkan. Banyak orang sedih, bawel, stres, ketika uang gaji tidak kunjung turun atau terlalu kecil sehingga dirasa kurang untuk mencukupi kebutuhan hidup. Lantas saya sedih di bagian mana?? Saya sedih di bagian, saya melihat beberapa orang terlalu terfokus memikirkan masalah tersebut. Tapi, ibadah yang dilakukan tidak sesemangat dibanding membicarakan masalah uang.

“Jangan sok tahu lu Dit, ibadh itu urusan manusia sama Allah. Ga perlu ditunjukkin di depan manusia juga kan?”

Yuhuuu, that’s right. Apa yang saya utarakan hanyalah sekilas yang sering saya lihat. Bersemangat, berkoar sana sini membahas uang, tapi ibadahanya?? Minimal solatnya, baca qur’annya, aah sudahlah.

Saya dulu juga salah satu bagian dari mereka yang melakukan hal itu. Saya terlalu terfokus pada uang (money oriented). Namun alhamdulillah kemudian saya tersadar, bahwa apa yang saya lakukan tidaklah benar. Perubahan harus saya lakukan, dan setelah bertemu dengan orang-orang hebat yang membantu saya tersadar akhirnya orientasi pun kemudian berubah.

Uang memang dibutuhkan, tapi tidak semua hal membutuhkan uang. Jika kita terlalu fokus pada uang, uang, dan uang, hidup kita akan hancur. Banyak buktinya toh? Orang cerdas, tapi karena terlalu fokus pada uang, akhirnya penjara yang menjadi tempat tinggal selanjutnya.

Sahabat, ketika kita mendahulukan Tuhan dalam setiap langkah, maka kepanikan pasti bisa diminimalisir. Ketika ibadah kepada Tuhan tidak kita kesampingkan dan menomorsatukan hal itu, pasti hidup kita akan tenang.

“Pede banget lu Dit ngomong gitu, kayak pernah aja”

Pernaaaaah. Karena saya pernah merasakan, maka dari itu saya berani bicara seperti itu. Dan sampai saat ini bukan saya bermaksud sombong, tapi saya selalu berusaha agar istiqomah dalam menjalaninya. Mengajak Allah dalam setiap urusan dan mencintai Tuhan dengan sebenar-benarnya cinta. Ketenangan, kenikmatan, dan tidak takut akan hal yang bersifat duniawi, itulah yang saya rasakan.

Jangan pernah membuang waktu hanya untuk memikirkan hal-hal yang sebenarnya tidak perlu terlalu untuk dipikirkan, karena sesungguhnya ketika kita memikirkan ibadah dan cinta kita ke Allah itulah yang seharusnya dilakukan. Bahkan pikirkan ketika kondisi kita tidak sedang dalam keadaan beriman dan jauh dari Allah, Tuhan Semesta Alah.

Profile photo of Radityo Fajar Priambodo
Profile photo of Radityo Fajar Priambodo

Latest posts by Radityo Fajar Priambodo (see all)


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar