Diskusi LTMI (1) : Membangun Generasi Sejak Dini
Uncategorized
August 12, 2015
0

Tadi malam, saya dan suami berkumpul dengan sahabat-sahabat yang luar biasa dari Lingkar Trainer Muda Indonesia. Malam itu diawali dengan sebuah pembahasan mengenai Islamic Parenting yang secara tidak sengaja di sharing-kan oleh sahabat kita, Mas Faiz namanya. Ia baru saja belajar mengenai sebuah pembelajaran bagaimana mendidik anak dalam sudut pandang islam. Ia bersemangat sekali dalam bercerita meskipun belum mempunyai anak karena memang dia blum punya istri. Hehehe. Tapi semangat belajar untuk mempersiapkannya patut diacungi jempol.

Ia bercerita bahwa sebenarnya pendidikan di Indonesia ini banyak mengandung kesia-siaan dimana materi yang sekolah-sekolah ajarkan senantiasa mengulang dan mengulang. Bisa dibayangkan jika waktu yang digunakan untuk materi yang berbau akademisi itu diubah dengan hal yang lebih bermanfaat dalam konteks islam yakni bagaimana agar anak-anak mampu mendekatkan diri dengan AL-Qur’an. Belajar menghafal serta mengamalkan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari, tentu sudah berapa banyak hal yang bisa diterapkan lewat Al-Quran?

Di sebuah sekolah bernama Kuttab AlFatih, ialah sebuah sekolah yang menanamkan nilai-nilai keagamaan melebihi segalanya. Peran orang tua disekolah ini sangat diutamakan. Tidak diperbolehkan apabila ada undangan dari sekolahterhadap orang tua yang datang hanya salah satunya. Harus keduanya. Anak-anak berusia 4/5 tahun ketika bangun sudah bisa langsung menata dirinya untuk mengambil air wudhu dan langsung sholat diusianya yang masih belia. Dan masih banyak lagi kisah yang diceritakan oleh Mas Faiz.
Namun, satu hal yang saya ambil kesimpulan bahwasannya setiap kualitas dari anak ialah hasil “olahan” orang tuanya. Terlepas dari sebuah pernyataan yang mengatakan bahwa “Keshalehan itu tidak diturunkan”. Pada dasarnya, hal itu memang benar saat kita melihat ada anak yg shalih/shaliha tetapi orang tuanya masih jauh dari Allah begitu pula sebaliknya. Namun, alangkah baiknya jika kedua orang tua saling bersinergi untuk membentuk karakter islami dari sang anak. Bagaimanapun, orang tua tetap menjadi nahkoda untuk karakter serta akhlak yang akan ditimbulkan dari sang anak. Terlebih golden age (0-5 tahun) ialah masa-masa krusial untuk membentuk karakter anak itu sendiri, sehingga sudah seharunya masa-masa itu membutuhkan peran orang tua terlebih ibu sebagai salah satu motor utama yang memiliki kesempatan lebih banyak berinteraksi terhadap sang anak. Sedangkah sang ayah, bertindak sebagai penentu garis haluan keluarga yang seharusnya bisa memberikan kebijakan yang senantiasa bermuara pada Al-Quran dan Sunah. Dan pekerjaan rumah yang paling penting bagi setiap pasutri ialah bagaimana mereka bisa bekerja keras untuk bisa menciptakan generasi-generasi yang kelak mampu bersanding dengan Shalahudin Al-Ayyubi, Muhammad Al Fatih dan sederet pejuang Islam lainnya yang tentunya mereka semua merupakan golden human yang Allah kehendaki untuk dijadikan sebagai teladan para orang tua untuk bisa terus terpacu menghebatkan anak-anaknya. Karena sesungguhnya mereka sama halnya dengan kita, manusia. Namun perbedaannya ialah dari segi bagaimana cara “mengolah”nya. Dan permulaan itu berawal dari kualitas dari sang orang tua.

Mudah-mudahan kelak ketika Allah menitipkan buah hati, kita bisa menjadi orang tua yang mampu menjalankan amanah itu dengan baik dan menjadi salah satu pencetak generasi rabbani yang berdampak. Aamiin


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar