Diary Ramadhan Anin (1) : Tarawih Perdana
Uncategorized
June 17, 2015
1

Tak ada bulan semulia ramadhan. Indahnya hidup karena sosok teladan. Inilah saatnya membangun peradaban dimulai dari bulan yang penuh keridhaan.

Marhaban Yaa Ramadhan. Barangkali akan bertebar kalimat indah nan menyejukkan dibawah naungan sang bulan penuh kemuliaan. Mengapa demikian? Karena pada dasarnya menyambut Ramdhan harus penuh kegembiraan. Bayangkan, Allah sedang “mengobral” pahal di bulan yang hanya sekali setahun dan belum tentu Ramadhan tahun depan kita bisa kembali berjumpa dengannya. Ramadhan bulan penuh ampunan. Allah lipat gandakan semua amalan kebaikan. Mengapa hanya di ramadhan? Sesungguhnya, Allah menginginkan bahwasannya sang hamba melakukan segala bentu kebaikan agar kelak amalan serta pahala yang ia dapatkan dapat menutup dosa-dosanya di masa lampau. Allah berikan begitu banyak janji balasan pahala di bulan ramadhan. Inilah bulan penuh kesucian.

***

Aktivitas diluar rumah hari ini dimulai dari kampus, saat pukul 10.20 (aturannya segitu, tapi tadi telat -__-), Materi perkuliahan hari ini adalah Customer Relationship Management, atau pengelolaan hubungan pelanggan, bahasa kerennya PHP. Ckckck.

Ada satu hal yang menggelitik saat sang ibu dosen tengah membahas seputar loyalitas pelanggan. Beliau memberikan pertanyaan, jika ada 3 jenis pelanggan dimana pelanggan A berbelanja di sebuah swalayan sebanyak seminggu sekali dengan nominal kurang lebih 400.000/minggu. Kemudian pelanggan B belanja jarang-jarang tetapi dengan nominal 600.000 atau lebih, dan pelanggan C, belanja setiap hari meskipun nominalnya hanya 50.000. Pertanyaannya adalah, pelanggan manakah yang paling berpeluang untuk menciptakan profit/nilai perusahaan?

Spontan saya menjawab, “Pelanggan C”.

“Oke Anin, menurutmu kenapa?” tanya sang ibu dosen.

Beberapa saat kelas hening..

Kemudian saya menjawab pertanyaan tersebut,

“Karena istiqomah”..

Sekelas dan ibu dosen tertawa.

“Sekalian aja tawadhu!!”, celetuk salah seorang teman.

*

Bagi saya kata tersebut biasa saja, namun teman-teman dan ibu dosen menertawakan dengan istilah yang saya gunakan, malah menjadi bahan bercandaan -_-

“iiiiiiya bener sih istiqomah, coba istiqomah yang seperti apa yang Anin maksud?”

“ya karena perusahaan butuh orang-orang yang setia untuk setidaknya mendatangkan profit yang jelas. Nggakpapa dia nominalnya sedikit tapi kan pasti dan kedepan nilainya juga akan terus bertambah seiring dengan peningkatan kebutuhannya dia”, jawabku dengan kalimat super cepat *kebiasaan*.

“Yaapp.. betul sekali jawabannya. Tapi besok kalo jawab soal jangan dijawab istiqomah yaaa, nanti malah dikira nama orang”. Ibu dosen tertawa diikut oleh teman-teman yang lain.
Sang ibu kembali menjelaskan seputar keistiqamahan pelanggan.

“Ya, memang betul yang dikatakan anin, suatu perusahaan akan senang dengan pelanggan yang mempuyai loyalitas tinggi terhadap produk yang dimiliki. Biarlah dia belanja sedikit tapi secara terus menerus.
Jika pelanggan A, maka dia berpeluang untuk senantiasa membandingkan harga dengan swalayan lain karena durasi yang digunakan perminggu, maka dalam kurun waktu itu ia bisa melihat sekiranya swalayan mana yang mempunya diskon tertinggi dan mereka akan pergi ke swalayan yang mempunya diskon besar dengan produk yang sama yang biasa mereka cari. Begitu juga dengan pelanggan B, mereka meskipun belanja dengan nominal tinggi, tetapi kesetiaannya masih diragukan dan kasusnya hampir mirip dengan pelanggan A. Maka perusahaan akan membutuhkan orang-orang seperti pelanggan C yang mempunyai loyalitas terhadap perusahaan”.

Sembari bu dosen menjalankan, angan saya mulai mencari hikmah yang sedang dibahas kala itu. Entah mengapa, saya kemudian langsung menyimpulkan bahwa keistiqamahan itu memang dibutuhkan diberbagai lini. Pantas saja Allah lebih menyukai amalan yang sedikit tetapi terus menerus dibandingkan yang banyak tetapi hanya sekali. Jika sebuah perusahaan membutuhkan orang-orang yag loyalitas, maka sesungguhnya berbeda dengan Allah. Meskipun Allah suka yang sedikit tetapi terus menerus, tetapi sesungguhnya Allah TIDAK memBUTUHkan keloyalitasan kita, melainkan KITA yang memBUTUHkan Allah dengan cara LOYAL terhadap Allah. Karena sedikitpun Allah tidak akan pernah rugi jika kita meninggalkanNya, melainkan kita yang akan RUGI BESAR, karena jika salah seorang dari kita mundur, maka niscaya Allah akan menggantinya dengan punggawa baru.

Astaghfirullah. Ini saya lagi kuliah malah galau beneran mengingat betapa “kembang kempis”-nya saya selama ini. Naik turun keimanan itu wajar, yang nggak wajar itu kalau udah turun nggak bisa balik lagi. Itu yang ngeri!!

Singkat cerita, kelas berakhir saat adzan dhuhur.

*

Menyusuri tangga dari lantai 2 menuju masjid yang tepat berada didepan gedung. Sekerumunan laki-laki sedang duduk diserambi masjid. Masjid terlihat sangat penuh. Saat itu saya berjanji hendak mengunjungi salah seorang teman. Saya memutuskan , “Oke, shalat di tempat Mba Mega aja deh”

Sejenak saya khilaf dan lupa bahwa shalat itu tidak beh ditunda apapun alasannya. Saat itu Allah langsung menegur saya dengan memberikan saya “salah arah” ke tempat Mba Mega. Saya muter-muter nggak jelas. Harusnya 15 menit sampe, ini sejam baru nyampe! Astaghfirullah. Lagi-lagi saya bersyukur, Allah mengingatkan secara langsung.

Pelajaran sesi ini : Kalau kebaikan yang wajib itu sudah didepan mata, jangan ditunda! Sekali ini aja khilafnya. Besok harus udah end!

*

Siang tadi saya berkesempatan silaturahim ke salah satu alumni YTA5 yang berdomisili di Semarang. Namanya Mas Rico. Eiittss, tapi saya janjian datang untuk menemui istrinya, Mba Mega namanya. Indahnya silaturahim, tak terasa waktu terus berjalan. Berbagai perbincangan yang begitu menggairahkan dan menyemangati tentunya disertai dengan nasihat-nasihat dari pasangan muda ini. Kisah inspiratif diceritakan sehingga membuat hati terasa bahwa “Wah, skenario Allah luar biasa. Ujianku belum ada apa-apanya!”. Singkat cerita pertemuan itu berakhir ba’da ashar.

***

Malam ini, shalat tarawih perdana. Letak kontrakan saya yang berada dipersis di depan kampus sehingga pelaksanaan tarawih pun saya lakukan di masjid kampus. Selain masjidnya adem karena full AC, juga banyak teman-teman disana. Hehehe.

Malam ini saya mendapatkan sebuah cerita menarik selepas shalat dan masjid mulai sepi. Hanya tinggal kami ber-6 para akhwat yang memang ber-basecamp di masjid. Satu orang yang saya anggap kakak saya, sebut saja Mba Dije. Ia bercerita bahwa hari ini ia habis berjualan brownis muter-muter di Semarang. Dari kantor ke kantor, ruko ke ruko. Dia baru saja mendapat suntikan semangat untuk berjualan setelah menngikuti sebuah seminar muslimpreneur (ini kali pertama ia melakukan hal senekat ini). Kemudian pada akhir kisahnya ia mengatakan ..

“Terima kasih ya Anin..”

“Untuk apa, Mbak?”

“Untuk inspirasinya…”

“Yang mana…?”. Saya bingung karena jujur saya jarang bertemu beliau pasca beliau wisuda.

“Ya, bahwa muslimah harus bisa bergerak. Selama ini mungkin aku salah menangkap bahwa pengertian akhwat itu harus yang pendiam, ramah dan betul-betul menjaga. Ternyata itu justru membatasi diriku.. Padahal aku ngerasa.. ya gitulah….”

“Ah itu.. Iya, sama-sama. Semangat ya Mbak!”

Dan kesimpulannya adalah kita memang muslimah, tetapi bukan berarti harus membatasi diri. Tetap menjadi dirimu hanya saja kini kau sudah mengetahui batasan syariat yang harus kamu tegakkan. Bukan syariat yang mengekangmu, justru syariat yang akan semakin memudahkanmu menjalankan sebuah amanah kehidupan ini. Karena Allah membuat peraturan bahwasannya agar kita hati-hati menjalani kehidupan, bukan membatasi bakat yang dimiliki. Akan selalu ada cara bagaimana kita memaksimalkan potensi yang dimiliki jika kita meyakini itu datangnya dari Allah, hanya saja pesan Allah bahwa kita tidak boleh berlebihan. Bakat itu rahmat dan semailah itu dengan syariat, maka percayalah suatu saat ia akan menjadi hal yang bisa bermanfaat! Semangat menebar kebaikan di bumi Allah sobat!

Coming Soon “Diary Ramadhan Anin” untuk episode berikutnya. Doakan istiqomah yaaaa 🙂 T.T

Maksimalkan Ramadhanmu sebagai bahan evaluasi ibadahmu. Jangan lewatkan setiap detik kejadian dalam Ramadhanmu agar kamu tidak melewatkan pahala yang Allah siapkan untuk kita jemput 🙂 Ditunggu kisah Ramadhan sahabat sekalian :’)


  1. MasyaAllah Anin, tulisannya keren. Suka dengan titik poin bahwa akhwat itu jangan sampai membatasi diri untuk berkarya, and you’re role model of it. Terus semangat dan berkarya! 🙂

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar