Diary Ramadhan Anin (2) : Hay Amanah!
Uncategorized
June 19, 2015
0

Ramadhan bukan berarti segala agenda kerja kita ditahan atau bahkan dihilangkan. Ramadhan adalah saat dimana kita bisa mensinergikan antara menambah pahala namun tetap memegang teguh amanah yang sudah di berikan. Pada dasarnya, setiap yang kita lakukan, jika itu hanya mengharap ridha Allah semata, tentu akan dianggap dengan ibadah pula bukan? Namun yang harus diingat adalah, kebutuhan ruhani kita harus tetap dijaga karena ruh kita butuh dikasih makan. Dengan apa? Tentu amalan harian yang hanya Allah dan kita yang tahu..

*

Hari ini agenda dimulai pukul 07.00 (jangan percaya nge-pas :D). Yapp! Kuliah pagiiiii. Apa yang terjadi? Yah, hanya nugas yang tugasnya menganalisa seputar cybercrime. Nothing special. Hanya saja saya berlatih kesabaran menulis. Hahaha

Sesi kuliah berikutnya yaitu stastika. Namanya aja udah gitu, pasti kalian akan tahu bagaimana isinya. Yaapp, angka-angka yang sangat buruk! Kenapa buruk? Karena biasanya hasil setiap kalkulator beda-beda karena emang angkanya terlalu spesial. Ckck. Tapi bukan itu point pentingnya. Point utama adalah saat perkuliahan sudah selesai (?).

Aku duduk di antara teman-teman. Maklum, hobi banget nggak masuk alhasil harus kejar catatan di akhir-akhir semester. Hihihi. Sebagaian anak sudah keluar ruangan. Hanya tinggal beberapa teman yang ada di dalam kelas. Topik pembahasan saat itu adalah seputar kuisioner dosen. Setiap akhir semester, ketika membuka sistem akademik untuk mendownload kartu ujian, akan selalu ada kuisioner untuk semua dosen yang mengajar di semester tersebut. Dan topik pembahasan semakin mengerucut terhadap salah satu dosen yang dianggap sangat “sesuatu” oleh mahasiswanya. Kenapa? Karena mata kuliahnya cuma 2 sks tapi tugasnyaaaa luar biasa. Dan cara mengajarnya yang saaangat spesial. Ckck. Jadilah menimbulkan berbagai persepsi dari anak-anak termasuk saya.

“Ah iya nih, dia tuh suka nggak jelas banget, masa bablabla~!@#$%^&*()!@#$%^&*(……”

Rata-rata setiap anak mengatakan dengan raut wajah bete, manyun dan sebel tentunya dan parahnya saya ikut memberikan pendapat meski masih nyalin catetan :D”

Dan pendapat saya diberi tanggapan oleh salah seorang teman dengan mengatakan “Tuh, anin aja bisa sebel begitu. Tumben anin ngomongin”, ckckk

Seketika saya langsung “Astaghfirullaaaaaaah… Ini kita malah ngehibah orang kaaan. Puasa woy..
Innalillahiii”.

“Oh iyaaa, astaghfirullaaah” dibarengi dengan teman-teman yang lain.

“Eh tapi kan kita menyampaikan fakta. Ya nggak sih?” Kala salah seorang teman mencari pembelaan.

“Iya, bener-bener. Emang kenyataan kok”. Timpal yang lain.

“Yaaah, tetep ajaa. Udah ah sayang puasa tau. Hikshiks.”
Menyalin catatan selesai.

*

Aku keluar ruangan. Ku dapati salah seorang teman yang juga mengikuti perkuliahan yang sama sedang duduk di koridor dengan mempelajari materi statstik yang baru saja di dapan. Maklum, teman saya yang satu ini sangat spesial. Bayangkan, IPK nya 3,9++ loohh.. Keren kan? Hihihi

*

“Hay Muuttt.. Lagi ngerjain tugas?” , sapaku dengan sembar duduk disamping Mutia.

“Hehe, enggak, Nin. Lagi belajar ajaaa..”

“Waah, kayaknya kita berdua ketinggalan banyak materi yaa. Pas udah akhiran baru deh bergerilya cari catetan. So sibuk sih kitaa.. wkwkwk”

“Hahaha, enggak so sibuk, Aniiiin”

“eh iya ding, emang sibuk beneran yah. Hahahahah..”
Mutia ini anak paduan suara mahasiswa. Jelas lah suaranya bagus, nggak kayak saya (?). Prestasi di PSM juga udah keren bangeet sampai ajang internasional looh. Daan perbincangan itu dimulai.

“Aku pusing banget tau Nin. Tugasku aja banyak yang belum kelar. Mana aku ketua lomba kan, harus nyiapin ini itu, ngrangkep sekretaris juga, debat sama rektor masalah dana lomba, nyiapin kostum buat lomba di Bali, karena kan lombanya di Bali kaaaan. Dan aku kan lebih seneng misal kalo aku yang ngerjain kan..”

“Waaah, jangan gitu say.. Kalau kayak gitu nanti jatohnya akan ke kamu semua. Brati kamu nggak percaya dong sama temen-temenmu. Gunanya organisasi kan biar semua saling bersinergi, nggak dikamu ajaaah”

“Iya sih, Nin. Aduh pokoknya pusing deh. Banyak banget yang harus dikerjaiiiiin, sampe bingung aku.”

“Hahahaha, ya sama sih, Mut. Kamu tau, absen kuliahku yang ijo baru dua, lainnya masih kuning dan merah bahkan. Wkwkwkwk. Kebanyakan bolos aku. Ckck”

Note : Hijau >75%, merah 75%)

“Hahaha.Gila kamu Nin!!”

“Aaah nggakpapa. Alhamdulillah kemarin udah diurus dan dimudahkan sih. Jadi InsyaAllah masih bisa ujian. Lagian mbolosnya kenapa duluuu. Kan aku nggak maiiin -__- emang harus ngga masuk untuk kepentingan yang lebih urgent dan mbolos pun karena belajar yang lain. Yang penting nanti harus tanggung jawab sama nilai. Kita dikasih amanah bukan untuk melepas amanah yang lain, tapi bagaimana agar bisa menyeimbangkan satu sama lain. Hihii. Absenmu juga kemarin kurang kan ya?”

“Alhamdulillah ternyata pas di cek enggak sih Nin. Masih aman aja. Heheh”

“Oke sip! Yaudah, pokoknya Mutia harus tetap semangat.!”

Kami saling berpandangan. Aku hendak beranjak kemudian menepuk pundak Mutia.

…..
“Ingat Mut, Amanah tidak pernah salah memilih pundak!” . Kemudian aku pergi meninggalkan Mutia.

“Daaah Muuutt.. Duluan yaaaaa”. Aku bergegas dari tempat duduk dan segera melangkahkan kaki meninggalkan Mutia.

“Hahahaha, Aamiiin.”. Aku menoleh ke arah Mutia. Dia masih tertawa dengan kalimatku.

*

Apa artinya? Ya, setiap orang diberi karunia masing-masing oleh Allah sesuai dengan kemampuannya. Tidak usah khawatir tidak bisa. Dengan diberi, tentu karena kita bisa. Kuncinya adalah berprasangka baik pada Allah.

Siang itu berakhir. Aku semakin menyadari bahwa esensi hidup ini adalah bagaimana bisa meraih manfaat dan menebar kebikan sebanyak mungkin.

*

Tarawih kedua.

Aku menunggu adzan Isya di pojok ruangan yang juga terdapat hijab kain antara laki-laki dan perempuan sudah lengkap dengan mukena dan Al-Qur’an di tangan. Aku mulai terganggu dengan hadirnya para bocah yang sedari tadi bolak-balik di dekat hijab persis disampingku dan sesekali mengintip ke barisan wanita.
Aku berusaha menggali informasi. Ada apa sebenarnya dengan mereka ini. Mereka berisik sekali!!

“Kamu namanya siapa?”

“Bagas Kak, yang ini Arga”, jawab anak itu sambi masih memusatkan perhatian ke barisan depan. Aku
mengikuti arah mata 2 anak tersebut. Rupanya di depan ada 2 anak perempuan yang sama-sama menggunakan mukena pink yang juga sudah siap menunggu adzan Isya. Aku langsung paham dengan maksud mereka.

“Oalaaaaah, jadi ngincer cewek..”

“Enggak kak Enggaaaak. Bukan aku yang suka, itu Rino yang suka. Rino suruh kita ngawasi katanya”

“Pantesan dari tadi ngintaip-ngintip mulu. Emang apanya yang diawasiiin? Kan dia juga sama ibunya(?)

“Nggak tau tuh kak, Rino tuh”

“Laaah -___- Nggak ngerti deh aku deeek, nggak ngertiiiii … !@#$%^&*”

-End-

Maaf kalau kisahnya agak nanggung. Semakin absurd soalnya kalau dilajutkan. Hihi. Teman-teman pasti sudah tahu apa yang saya maksud. *Emangnya apaa?* NOSTALGIA! Wkwkwkwk 😀 😀

See you di diary Ramadhan Anin berikutnya yaaaa :*

Selalu ada kisah disteiap hari-hari mu. Tugas kita adalah bagaimanamengabadikannya dan menjadikan pelajaran hiudp yang idak pernah bisa kita beli dengan apapun


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar