Cukuplah Kematian Sebagai Pengingat

“Di manapun kalian berada, kematian akan mendapatkan kalian, kendati kalian berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh” (Q.S An-Nisa :78)

“Katakanlah : Sesungguhnya kematian yang kalian lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kalian, kemudian kalian akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitahukan kepada kalian apa yang telah kalian kerjakan” (Q.S Al-Jumu’ah : 8)

Maa syaa Allah, begitulah dua firman Allah yang selalu membuat saya takut dan merenung ketika membacanya. Bukan bermaksud menakut-nakuti tapi memang itulah kenyataan nya, bahwa kematian layaknya jari telunjuk dan jari tengah yang sangat dekat dengan manusia. Maka jika ditanyakan mengenai hal apa yang paling dekat dengan manusia? Hanyalah kematian jawaban nya.

Tanpa disadari pula kita ini sedang mengantri.. mengantri layaknya antri di rumah sakit dengan nomor urut yang sudah ditetapkan, namun perbedaan nya jika dirumah sakit kita sangat tahu pasti jam berapa akan dipanggil oleh dokter untuk masuk ke dalam ruangan sedangkan kematian nomor urutnya saja pun kita tidak mengetahui nya apalagi waktu untuk dipanggilnya. Dan itulah hal yang menyebabkan manusia berleha-leha sehingga seringkali lupa kalau kita ini sedang antri.

Jika antri di rumah sakit sebelum memasuki ruangan dokter ada persyaratan yang harus dilengkapi seperti membawa kartu pasien, formulir rumah sakit dan lain sebagainya maka sama pula dengan kematian yang dimana kita harus mempersiapkan satu hal yang nantinya akan dipertanggung jawabkan, yaitu amal sholeh. Lantas, sudah kah kita mempersiapkan nya dengan baik?

Pada intinya setiap hari yang kita lalui adalah untuk mempersiapkan bekal yang akan dibawa kelak saat nomor urut kita sudah dipanggil.
Jika mengerjakan tugas sekolah ataupun kuliah pada satu hari sebelum tugas tersebut dikumpulkan, akankah tugas yang kita kerjakan maksimal dan penuh totalitas? Saya yakin jawaban nya adalah tidak. Bahkan karena waktu yang sudah mepet banyak cara yang kita pergunakan untuk “yang penting tugasnya selesai”. Mirip dengan pengerjaan tugas begitu pula lah dengan kematian, banyak manusia yang menunda-nunda waktu bertaubat, banyak yang berfikir bahwa taubat adalah hal yang dilakukan oleh orang tua dan masa muda adalah waktu nya bersenang-senang, padahal sungguh dunia ini adalah kesenangan yang palsu.

Sobat, banyak sekali perumpamaan yang bisa kita hubungkan dengan kematian yang sangat dekat ini. Hanya seringkali kita enggan untuk memikirkannya.

Teringat dengan dua minggu yang lalu, ketika itu saya dan sahabat berencana ke sekolah untuk mengambil ijazah dan temu kangen karena sudah hampir 2 bulan tidak bertemu semenjak lulus dari SMA. Qadarallah, kami pun dipertemukan di sekolah pada saat itu, banyak cerita yang sama-sama kami ceritakan tentang bagaimana kehidupan saat ini, teman-teman baru yang sama-sama kami dapatkan dan lain-lain nya.

Sejenak kami sempat terdiam dan sahabat saya tiba-tiba berkata,

“sekarang kita ngomongin kematian aja yuk?”

Entah kenapa sahabat saya berbicara seperti itu, tapi topic yang menarik untuk dibicarakan saya fikir. Dan kami pun saling berkaca-kaca mengenai amalan apa saja yang sudah dilakukan, mengenai bagaimana ketika nanti manusia dimatikan dan banyak sekali yang dibicarakan dari topic ini dan tentunya membuat kami menjadi takut dan kembali merenung. Sungguh, pembicaraan luar biasa yang kami lakukan sore itu, hal semacam ini pun rutin kami lakukan selain untuk muhasabah diri juga untuk menghilangkan kebiasaan buruk membicarakan sesuatu hal yang sarat akan makna terlebih jika membicarakan orang lain alias gibah.

Sobat, sekedar renungan diri bahwa cukuplah kematian sebagai pengingat. Tidak hanya pengingat bagi diri sendiri tapi juga untuk orang lain terutama keluarga dan orang terdekat, sungguh dunia dan seisinya hanyalah kesenangan yang fana.

Yuk, mari sama-sama kita mengingatkan. Tak masalah jika usia terbilang muda, semakin muda kita bertaubat maka semakin baik, sekali lagi karena kematian bisa datang kapan saja. Biasakanlah melakukan hal-hal positif dimanapun dan kapanpun, jangan pernah melupakan satu hal bahwa kita hanyalah seorang hamba.

Alhamdulillah ‘ala kulli haal…

Profile photo of Saskia Ratry Arsiwie
Profile photo of Saskia Ratry Arsiwie

Latest posts by Saskia Ratry Arsiwie (see all)


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar