Catatan Senja (1)
Uncategorized
April 8, 2015
0

Semarang, 11 November 2014

Aku duduk disebuah kafe. Bukan kafe mewah melainkan sebuah swalayan yang menyediakan tempat utuk sekedar berbincang para pelanggannya. Mendung menyelimuti sore ini. Kepulan asap sesekali menusuk hidungku. Kulihat di sisi kiri, ada sekelompok remaja tanggung, usia 18 tahun keatas. 3 lelaki dan 2 perempuan. Salah seorang perempuan disana memegang rokok ditangan kirinya.

Dibelakang mereka sekelompok remaja berseragam putih abu-abu. Rupanya sepulang sekolah mereka menghabiskan waktunya untuk sekedar mengobrol apa yang tadi terjadi disekolah. Aku duduk menghadap jalan raya. Bangunan yang hanya berdiri setengah tembok sehingga dapat terlihat jelas lalu lalang mobil dan motor di jalanan. Beberapa mobil terparkir di area swalayan. Rupanya sang pemilik pun senang berada di tempat ini, begitu pula denganku. Ini kali kedua aku berkunjung untuk sekedar menikmati minuman kotak dan sebuah buku yang baru saja ku beli serta laptop yang setia menemaniku untuk mengizinkan jemariku menari di atas tombol-tombol keyboard.

*

“Mbak, Mbak.. ISIS itu apa? Aku ceritain dong” tanya seorang temanku di camp yang kami huni. Aku bersama
ke 4 teman yang notabene berasal dari kalangan awam yang aktif di sebuah organisasi keolahragaan kampus.
Ku ceritakan seputar organisasi Islam radikal semampuku. Perbincangan kami semakin melebar tak terkendali hingga membahas sampai genderuwo, wewe gombel dan pocong. Kok bisa? Entahlah, namanya juga mulut. Dia bisa beralih dari satu topik ke topik yang lain tanpa terasa. Ckckck

Tetapi intinya, kami membahas tentang dunia Islam. Mereka menyadari bahwa Islam itu butuh orang-orang yang mampu membela agamaya, sampai pada akhirnya aku bertanya pada mereka “Kita tahu, bahwa agama kita butuh kita biar nggak selalu di cap teroris atau apapun. Kita lihat saudara-saudara kita di kristenisasi, lantas tak inginkah kalian untuk menolong agama kita?”
Mereka semua terdiam. Saling memandang satu sama lain.

“Pengen lah, Nin”.. Amel lirih

“Mbak, kamu ngomong kayak gitu, apa yang kamu rasain?”, Abdul balik tanya kepadaku.

“Ya jelas aku pengen nolong Islam lah, Dul. Makanya aku aktif di kegiatan Islam. Makanya aku nanya, apa kalian nggak kepengen? Tapi ya memang awalnya kita harus memperbaaiki diri dulu, biar apa yag kita omongin bisa nyambung ke orang lain”

“Naaah, makanya itu Mbak.. Dewe ki yo pengen!”

“Tapi?”

“Tapi yaaa……”

Pertanyaan yang kiranya tak terlalu membutuhkan jawaban. Aku tahu, sebenarnya mereka ingin. Tetapi, mungkin Allah belum berkenan memberikan hidayahNya. Atau mungkin belum ada yang hendak mengantakan hidayah Allah tersebut. Oleh karena itu, aku bertahan disini. Mencoba dakwah di berbagai kalangan dan menjadi agen Muslim yang baik. Tujuanku hanya satu, menjadi orang-orang pilihan Allah agar aku bisamenginspirasi banyak orang, yang demikian adalah caraku agar mencintai Islam dan membuat orang lain jatuh cina pada Islam. Mampu melebur, tetapi tidak terlebur. Mereka semua teman-teman baikku. Kelak aku ingin bersama mereka menuju surgaNya. Karena aku yang membutuhkan dakwah, bukan dakwah yang membutuhkanku. Allah tak membutuhkanku, tetapi aku yang butuh Allah.

*

Hari semakin larut, sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Di luar hujan deras mengguyur kota Semarang. Bersama senja, aku terlarut dalam buaian air hujan. Mensyukuri indahnya nikmat yang Allah berikan. Kini, sudah saatnya kututup perbincanganku dengan papan tombol ini. Sembari menunggu hujan reda, ku lanjutkan membaca buku yang ku bawa berjudul “Bukan Untuk Di Baca”karya Deassy M. Destiani. Buku ini mempunyai berbagai kisah inspiratif yang menarik untuk tak sekedar dibaca, tetapi harus segera di aplikasikan dalam kehidupan sehari-har Terlebih terhadap aku, yang tengah memperjuangkan mimpi-mimpiku yang sudah hadir didalam daftar tunggu tembok kamarku.


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar