Kata: Merasuk – Merusak!!!
Uncategorized
December 23, 2014
0

Terlontar; tak terpikirkan sebelumnya
Menghujam; langsung mnuju titik pusat
Cuek; tak peduli dengan nasib korban
berbalik badan; seakan tak bersalah dan tak terjadi apa-apa

-K-A-T-A-
gerombolan kata
Merasuk merusak tatanan ukhuwah
Menimbulkan virus kebencian
Mengusik ketenangan bathin
Perpecahan terjadi!

istilah -lidah lebih tajam dari pada pedang- terjadi kemarin
Sulit tuk dimengerti memang
Cobalah fikir!

Kata-kata yang menurutmu sederhana
Menjadi tikaman bagi oranglain
Atau kata-kata yang menurut orang lain sederhana
Menjadi tikaman bagi dirimu

Membuat luka yang menganga
Sulit untuk mengobati dan menutupnya
Perih walau kulit tak tersayat
Hanya kata maaf mungkin jadi penyelamat

Saktah Kehidupan
Uncategorized
December 23, 2014
0

Bergeraklah! lakukan hal-hal yang bermanfaat

Janganlah kau diam dan terpenjara dalam hati

 

Bergeraklah! ambil penamu!

Catat pelajaran-pelajaran yang bertebaran bagai oksigen yang menyegarkan

 

Tersenyumlah! Atas segala perjuangan yang kau lakukan

Ikhlashkanlah! Atas hasil yang kau dapatkan

Berpikirlah positif! Karena segala sesuatu pasti ada hikmahnya

 

Apabila memang bahtera citamu tak sampai pada yang kau tuju,

minimal kau dapat melihat indahnya hamparan samudera kenikmatan perjuangan dari Tuhan mu

 

Jangan bersedih! apabila kau tak mendapatkan balasan amal baikmu di dunia

karena Tuhan mu akan membalasnya dengan yang lebih baik

 

Tiadalah kehidupan dunia kecuali hanya sementara

Berpikirlah! apa yang ita dapatkan di akhirat jika semua balasan telah diberikan-Nya di dunia

 

Ikhlashlah dalam berjuang walau tetes air mata sudah akrab dengan pipimu

Janganlah berputus asa!

Karena engkau masih mempunyai Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

 

Aku membuat bait-bait perjuangan ini pada tahun 2012 lalu. Aku berpikir, hakikatnya setiap manusia yang terlahir adalah manusia yang unggul dengan kelebihannya masing-masing, dan uniknya.. sejak terlahirnya kita saja telah memberikan manfaat yang banyak bagi lingkungan kita, yang paling sederhana adalah dengan lahirnya kita, para dokter persalinan tak kehilangan pekerjaannya.

 

Perlahan-lahan kita mulai tumbuh besar, kita mengalami perubahan yang luar biasa dari perjalanan hidup kita, kita mulai mengenal berbagai ilmu dan keterampilan, belajar tentang bahasa manusia sampai kebiasaan-kebiasaan yang dilakukannya. Di masa balita saja, saat itu kita telah mengenal mana yang bernama ‘ibu’ mana yang bernama ‘ayah’, karena merekalah orang terdekat yang mengajarkan kita banyak hal.

 

Dari fase-fase pendidikan yang kita pelajari perlahan-lahan, kita mulai mengenal yang namanya ‘cita-cita’, sebuah target – sebuah mimpi yang akan kita perjuangkan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan. Dalam perjalan menggapai cita-cita, jalan yang harus kita hadapi tidaklah selalu mulus, banyak ujian dan cobaan yang menyapa kita dan seakan mengatakan “sudahlah! kau tidak akan mendapatkan cita-citamu! jalan ini sangat panjang dan teramat susah! menyerahlah! menyerahlah! kau tidak akan pernah berhasil! percuma!”, bila sudah seperti ini, berhentilah sejenak dan atur nafas kita untuk mengingat kembali waktu pertama kali kita membuat cita-cita tersebut dengan penuh semangat dan percaya diri, ingat-ingat kembali kebahagaiaan yang akan kita dapatkan dari cita-cita tersebut, dan ingat pula kebahagiaan tersebut kita hadiahkan untuk siapa? betul, tidak lain adalah manusia yang pertama kali mendapatkan kehormatan dari kata ‘ayah’ dan ‘ibu’; orangtua kita!.

 

Ayahku pernah bercerita mengenai saktah kehidupan, jika kita belajar membaca alqur’an, saktah adalah istilah untuk berhenti sejenak sambil menahan nafas. Beliau menceritakan bahwa ada seorang penjual jeruk yang telah berjalan cukup jauh mengitari kampung, lelah berjalan dan keringat yang mengucur karena sengatan mentari siang bolong amat ia rasakan, di tengah perjalanannya ia melihat sebuah pohon yang amat rindang, maka ia segera mengatur langkah menuju pohon tersebut dan duduk santai dibawahnya ditemani semilir angin yang menyegarkan. Sambil berisitirahat, penjual jeruk itu melihat sisa dagangannya yang sedari pagi ia bawa keliling kampung, ia mulai menghitung-hitung jumlah jeruk yang tersisa, ia juga membuat rencana-rencana jalur yang akan dipilihnya sebagai jalur yang amat memungkinkan jeruknya habis terjual. Dari kegiatan rehat sejenak yang dilakukannya, juga dengan mengatur kembali strategi penjualan jeruknya, semangatnya kembali berkobar, langkah kakinya semakin kiuat, pandangan matanya semakin tajam.. maka, ia tetap bergerak dengan penuh keoptimisan.

 

 

“andikata kita bisa benar-benar menempatkan diri kita secara tepat sekali dalam hidup ini, niscaya hidup ini akan lebih ringan, indah, lebih barokah. Sayang kita kadang tidak cukup waktu untuk mengenal diri, sehingga kita merasa lebih dari kenyataan atau merasa lebih rendah dari karunia yang Allah berikan” (AaGym)

 

Sahabat, tak ada salahnya jika kita berhenti sejenak untuk mengatur nafas perjuangan, di awal tadi kita telah sama-sama mengetahui bahwa memang tak bisa pungkiri, jalan merintis sebuah cita tak selamanya mulus. Yang salah adalah jika kita berhenti total dari sebuah perjuangan yang akan membuat hidup kita bermakna – penuh arti.

 

Hidup adalah perjuangan yang tak kenal henti, maka jangan pernah berhenti berjuang hingga kau dapat meraih surga-Nya!

Belajar Rendah Hati Yuk!
Uncategorized
December 23, 2014
0

 

Selamat pagi dan semangat pagi sahabat!! semoga hari ini lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok lebih baik dari hari ini, agar kita menjadi pribadi yang beruntung, aamiin. Saya akan mengawali tulisan sederhana ini dengan sebuah analogi teko dan gelas. Jika kita ingin menuangkan air yang berada di dalam teko ke dalam gelas, kita tentu harus meletakkan gelas tersebut di posisi yang lebih rendah dari pada teko, sebab jika posisi gelas berada lebih tinggi dari teko tersebut, tentu air yang akan dituangkan dari teko tidak bisa masuk ke dalam gelas dan hanya akan menyia-nyiakan air itu secara percuma.

 

Sekarang, mari kita pikirkan, ibarat hati kita adalah gelas tersebut, sedangkan air itu adalah ilmu yang dimiliki oleh teko yang diibaratkan sebagai guru kita, jika kita ingin mendapatkan air tersebut, kita harus merendahkan hati kita dan membuang jauh-jauh rasa sombong yang akan menjadi penghalang kita mendapatkan ilmu.

 

Rendah hati merupakan magnet ilmu, rendahnya hati kita menandakan kita siap menerima ilmu dari siapa saja, tak peduli dari orang yang jenjang pendidikannya tinggi atau dari orang yang sama sekali tidak merasakan bangku persekolahan sekalipun, karena sejatinya setiap kepala masing-masingnya berisi berbagai ilmu dan pengalaman yang amat berharga, siapa yang rendah hati, ia akan mendapatkan semuanya. Cobalah belajar untuk rendah hati, belajarlah untuk menerima bahwa orang-orang yang kita temui dalam kehidupan kita adalah guru kehidupan kita.

 

Lawan kata dari rendah hati adalah sombong. Sadarkah kita, bahwa orang sombong adalah orang yang bodoh,  ia merasa dirinya adalah segalanya, sehingga memandang rendah siapapun yang dikenalnya, ia tidak peduli saat orang lain bicara dan menganggapnya hanya sebuah kata-kata yang sama sekali tak berguna dalam hidupnya. Sering pula kita menemukan orang-orang yang (katanya) memiliki banyak ilmu, kemudian masuk ke dalam materi pembelajaran yang sangat dasar, dan tentunya ia telah mendapatkan ilmu itu sebelumnya, banyak dari mereka yang sombong dengan ilmu yang sudah didapatnya jauh-jauh hari sebelum ilmu itu ia dapatkan kembali, meremehkan dan tidak lagi menghormati gurunya, mentertawakan dan menganggap rendah teman-temannya, seolah ia ingin mengatakan bahwa dirinyalah yang paling tahu dalam forum pembelajaran itu. Padahal, jelas sekali Allah SWT sedang mengujinya dengan nikmat ilmu yang Ia dapatkan, apakah Ia bersyukur dengan ilmu itu atau menjadikannya sombong dan seolah melupakan bahwa dulu Ia adalah makhluk yang tak mengerti sesuatu apapun. Sahabat, Perbaruilah niat kita dalam menuntut ilmu, luruskan kembali, berpikirlah, sebanyak apapun jumlah manusia di alam semesta ini, tidak ada manusia yang melebihi pengetahuan Tuhan-nya.

 

Tak ingatkah, ada pepatah mengatakan –ada langit di atas langit-, betul! setinggi apapun ilmu kita, diluar sana pasti ada yang lebih tinggi ilmunya daripada kita. Jadi, jangan terlalu bangga atas ilmu yang kita dapatkan, teruslah belajar dan jangan berhenti untuk mencari ilmu dari siapa saja, sebab ilmu banyak bertebaran setiap detiknya.

 

Cobalah merenung sejenak, bisa jadi Allah SWT menahan kesuksesan kita karena kesombongan yang masih melekat di niat kita, Allah SWT amat mengetahui niat seorang hamba-Nya, Ia hanya akan memberikan kesuksesan jika niat hamba-Nya tulus karena-Nya. Orang yang sombong, jika diberikan kesuksesan yang lebih, amat berpotensi baginya untuk membesarkan rasa sombongnya, sedangkan yang pantas untuk sombong hanyalah Allah SWT, sebab Ia Yang Maha Memiliki Segalanya.

 

Adakah kita lupa kisah Firaun? seorang raja dari Mesir yang dengan segala kesombongannya mengaku bahwa dirinya adalah Tuhan, Allah SWT melaknatnya dengan menenggelamkannya di laut merah. Atau kisah Qorun? yang karena kekayaan hartanya membuatnya berbangga diri dan sombong, kemudian merasa bahwa kekayaan yang dimilikinya adalah murni karena jeri payahnya, lalu lihatlah di akhir hayatnya, Allah SWT mengazabnya dengan menenggelamkan seluruh harta berikut dirinya ditelan bumi. Sahabatku, janganlah kita lupa bahwa karena kesombonganlah Iblis terkutuk.

 

Jadilah pelajar sejati dengan cara rendah hati. Ingatlah, bahwa semua kelebihan yang ada di dalam diri kita sejatinya adalah pemberian dari Allah SWT. Jika kita diberi sesuatu yang kita senangi, yang sebelumnya kita tidak memilikinya, disanalah seharusnya rasa syukur tumbuh, tak sedikitpun ada kepantasan untuk kita merasa sombong atas sebuah pemberian tersebut. Kita hanyalah seorang hamba yang sering mengeluh dengan segala kelemahannya.

 

Belajarlah kerendahan hati dari Rasulullah SAW, Beliau adalah insan terbaik, Beliau sukses disegala bidang, disenangi kawan disegani lawan, tetapi Beliau tetap rendah hati, sebab kerendahan hati dan rasa menghargai Beliaulah orang yang bersamanya akan selalu merasa bahwa dirinya adalah orang yang sangat berharga. Begitulah Rasul SAW mengajarkan kita untuk rendah hati dan tidak sombong. Semoga Allah SWT merahmati Beliau, sahabatnya, dan para pengikutnya. aamiin.

 

Sahabat, mari berdo’a agar kita diberikan hati yang selalu bersyukur dan tidak sombong atas segala titipan-Nya, berdo’alah juga semoga Allah SWT menghadirkan orang-orang yang akan mengingatkan kita agar senantiasa rendah hati dalam menuntut ilmu. Rendah hatilah… tundukkan hati kita, lapangkan dada, ikhlashkan niat, dan kuatkan tekad, semoga Allah mengangkat derajat kita dengan ilmu. aamiin.

Waktu, Berguna atau Tidak?
Uncategorized
December 23, 2014
0

 

 

 

Sahabat, setiap kita diberikan jatah waktu yang sama setiap harinya 24 jam, yang menjadi pertanyaan adalah pemakaian waktu yang diberikan tersebut untuk apa digunakan, apakah untuk kegiatan yang bermanfaat dan beroleh pahala, atau kegiatan yang sia-sia, menyesatkan, maksiat dan malah beroleh dosa?

 

Orang-orang yang cerdas juga mulia akan menggunakan waktunya hanya untuk kegiatan yang bermanfaat untuk dirinya dan orang lain, ia paham walau sedetik pun waktu dan kesempatan tidak mungkin dapat diulang. Maka, setiap harinya orang-orang dalam kelompok ini akan benar-benar rapih mengatur kegiatan hariannya, mereka akan memangkas kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat untuk digantikan dengan kegiatan yang bermanfaat, jika ada kesempatan yang bagus lagi mereka akan menggantikan kegiatan yang bermanfaat tersebut dengan kegiatan yang lebih bermanfaat, setiap detiknya adalah kebermanfaatan, setiap saat pahalanya mengalir tanpa pernah berhenti.

 

Sekarang, coba kita merenung sejenak, berapa banyak kegiatan-kegiatan kita setiap harinya yang cenderung mengundang dosa dan tidak mengandung pahala? ngobrol-ngobrol yang tidak bermanfaat, begadang hingga larut malam untuk hal yang tak berguna, menganggur – tak jelas arah dan tujuan, memperbanyak tidur yang diluar kebutuhan, dan beragam kegiatan-kegiatan lainnya yang menyita banyak waktu. Bayangkan jika waktu-waktu tersebut digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, seperti membaca buku, menulis, mengikuti seminar-seminar pengembangan diri, membuat perencanaan yang matang untuk masa depan, dan berbagai kegiatan lainnya yang akan menjadikan kita pribadi yang lebih baik lagi dan bermanfaat bagi banyak orang.

 

Tanyakan pentingnya waktu walau sedetik kepada mereka yang tertinggal keberangkatan pesawat, yang kehabisan tiket kereta untuk pulang kampung, yang kehabisan jatah tempat duduk di bis umum sehingga harus berdiri hingga tempat tujuan, yang terlambat meminta maaf kepada orangtuanya sebelum mereka wafat; semoga kita dapat sadar bahwa waktu merupakan hal yang penting di kehidupan kita.

 

Dahulu, aku biasa menempuh perjalanan dari Pondok Aren, Tangerang Selatan ke Tanah Sareal, Bogor untuk kuliah dengan waktu normal satu setengah jam menggunakan sepeda motor via jalur parung panjang, jika macet malah bisa sampai sejam lebih empat puluh lima menit lamanya perjalanan, namun jika ingin lebih cepat sampai, aku harus memacu kendaraanku lebih cepat lagi dan tentu dengan bahaya dan resiko yang lebih besar lagi, betapa pentingnya waktu tersebut walau sedetik bagiku. Namun, walau demikian, ada perasaan senang dan bersyukur saat aku menempuh perjalanan tersebut, karena apa? saat itu aku sedang menggunakan waktu tersebut untuk kegiatan yang bermanfaat, bukan untuk hal-hal yang sia-sia bahkan mengandung dosa, aku menepuh jauhnya perjalanan dari rumahku ke tempat kuliah untuk menuntut ilmu, untuk bertemu teman-teman luar biasaku disana yang mengajarkanku banyak hal mengenai ilmu kehidupan, mengenai estafet perjuangan yang harus kami teruskan, maka ringan langkahku untuk menuju kesana. Alhamdulillaah. Semoga berkah Allah SWT selalu menemani teman-temanku disana. Aamiin.

 

Sahabat, mari kita gunakan waktu dengan sebaik-baiknya. Sebanyak apapun uang yang kita miliki, waktu yang terlewat tak akan pernah bisa dibeli untuk dikembalikan. Imam Syafi’i dalam syairnya berpesan “waktu ibarat pedang, jika engkau tidak menebasnya maka ialah yang akan menebasmu. Dan jiwamu, jika tidak kau sibukkan di dalam kebenaran, maka ia akan menyibukkanmu dalam kebathilan”.

 

Sahabat yang cerdas juga mulia, semoga kita bisa memanfaatkan sisa waktu hidup yang disediakan Allah SWT dengan sebaik-baiknya agar ia tidak menjadi beban berat di akhirat nanti. Aamiin.

 

Sahabat Perantau, Baca ini!
Uncategorized
December 23, 2014
0

Sahabat Perantau, Baca ini!

 

Sahabat, kadang disela perjuangan yang kita lakukan di tanah rantau, kita kembali diingatkan tentang kampung halaman, ingatan akan kenangan tersebut perlahan membisik kita agar kita cepat pulang menengok kampung halaman, kemudian kita mulai bertanya-tanya tentang perubahan apa saja yang terjadi disana, kita mulai bertanya-tanya mengenai kabar orang-orang yang kita tinggalkan, dan yang paling menyindir adalah kita mulai bertanya mengenai bekal apa yang bisa kita persembahkan untuk orang-orang di kampung halaman sana, yang telah lama menanti kedatangan kita, yang terus-menerus mendo’akan kita setiap harinya, yang bisa saja sebagian harapan hidup mereka dititipkan kepada hasil perjuangan kita di tanah rantau ini.

 

Bayangan akan sedikitnya bekal yang kita dapatkan terkadang membuat kita malu untuk melangkah pulang, jika sudah seperti ini, kita menjadi serba tidak siap untuk menatap kampung halaman, kita tidak siap.. ya! Tidak siap untuk memberikan jawaban yang memuaskan akan sebuah pertanyaan mengenai -apa saja yang kita lakukan selama di tanah rantau?- memang; serba-salah jika dahulu selama di tanah rantau kita menggunakan waktu yang tersisa dengan kemalasan, mengganti waktu belajar dengan tidur pulas, mengganti waktu ibadah dengan kemaksiatan, menggunakan fasilitas yang ada untuk hal-hal yang tak bermanfaat, dengan senda gurau, dengan tertawa dan bercanda yang berlebihan-yang perlahan namun pasti akan membelokkan niat awal kita di tanah rantau, yang membuat kita terkupa akan tugas yang harus kita selesaikan dengan baik di tanah rantau, sampai kampung halaman memanggil dan memaksa kita untuk pulang.

 

Pernahkah kita tersadar, bahwa hakikatnya kita dan semua manusia yang ada di dunia ini adalah perantau yang suatu saat nanti pasti akan kembali ke kampung halaman, negeri akhirat; disana kita pasti akan ditanyakan mengenai seberapa banyak bekal yang bisa kita kumpulkan, ditanyakan tentang waktu yang setiap detiknya beroleh pahala atau dosa, ditanyakan mengenai kewajiban-kewajiban yang terkadang kita lalai menjalankannya bahkan sampai melupakannya, semuanya.. akan dipertanggung jawabkan.

 

Atau, sejatinya kita telah mengetahui  sejak lama mengenai tujuan untuk apa kita diciptakan, kita telah telah mengetahui pula bahwa semua yang kita lakukan akan dipertanggung jawabkan, kita pun juga telah mengetahui bahwa kita makhluk yang lemah yang setiap saatnya membutuhkan bantuan dan kasih sayang Pencipta kita, tetapi.. mata hati kita telah dibutakan dengan nafsu dunia, sehingga semua hal yang kita ketahui tersebut tak serta merta membuat diri kita untuk segera melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sebagai ciptaan, sebagai hamba yang harus tunduk patuh nan taat kepada Penciptanya; mata hati kita telah tertutup dengan noda-noda hitam kelamnya dosa kita, sehingga semua pengetahuan tersebut tak serta merta membuat kita untuk segera meninggalkan larangan-larangannya, justru malah santai dan menikmati hidangan kemaksiatan dengan berbagai menunya.

 

Maka, sebagai perantau di alam dunia yang hatinya senantiasa digoda oleh hal-hal yang melenakan dan menjerumuskan ke lembah kerugian, amat indah Rasul SAW mengajarkan kita untuk senantiasa  berdo’a kepada Pemilik hati kita semua:

 

“wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati kami, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu”

Begitupun di alqur’an, Allah SWT membimbing hamba-Nya melalui do’a yang terdapat di dalam surat Ali Imran ayat 8 dan 147:

 

“yaa Rabb kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri kami petunjuk kepada kami, dan rahmatilah Kami dari sisi Engkau, karena sesungguhnya Engkau lah Maha Pemberi (karunia)” (Ali-Imran : 8)

 

“yaa Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan tindakan-tindakan kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan teguhkanlah pendirian kami,  dan tolonglah kami terhadap kamu yang kafir” (Ali-Imran : 147)

Sebagai perantau, teruslah berusaha untuk menjadi lebih baik dan mempertahankan kebaikan yang ada pada diri kita, tak ada salahnya jika kita berharap kebaikan di tanah rantau juga berharap kebaikan hingga saat kembalinya kita ke kampung halaman nanti. Semoga di tanah rantau ini, kita bisa memanfaatkan waktu yang tersisa dengan kebaikan dan ketaatan, sehingga kumpulan waktu dan kesempatan yang kita lewati tidak menjadi beban-beban berat kita di akhirat nanti. Aamiin.

Fokus, Tulus, Lulus!
Uncategorized
December 23, 2014
0

Dalam sebuah training motivasi, sang motivator meminta dua dari seluruh peserta untuk maju ke panggung, berdiri bersama sang motivator tersebut. Kemudian, sang motivator memberikan masing-masing sebuah kertas berukuran setengah kertas A4, kepada mereka masing-masing diberi tugas untuk meremas kertas tersebut sehingga menjadi sebuah bulatan kecil.

 

Setelah mereka meremas masing-masing kertas yang ada di genggamannya, kepada orang pertama, sang motivator menginstrusikan agar melempar bola tersebut kemana saja, sesuka hatinya. Maka, orang pertama ini pun dengan mudah melempar kertas tadi ke sembarang tempat, walau sebelumnya ia sempat memikirkan ke arah mana ia akan melemparkan kertas tersebut, ia sedikit bingung. Tugas untuk orang pertama selesai.

 

Orang kedua mulai diberikan instruksi, kepadanya sang motivator memerintahkannya untuk fokus kepada satu titik tujuan yang berjarak beberapa meter dari orang kedua tersebut, orang kedua ini ternyata memerlukan waktu selama 10 detik untuk memfokuskan leparannya ke titik tujuan yang ada di depannya, setelah hatinya mantap, tangannya pun melemparkan kertas tersebut dan berharap akan mengenai titik tujuan, apa yang terjadi? Orang kedua ini ternyata belum beruntung, ia gagal, lemparannya masih melenceng beberapa senti dari titik tujuan. Tugas untuk orang kedua selelsai.

 

Sang motivator pun berkata, “sahabat sekalian, mari kita cermati permainan sederhana namun bermakna yang baru saja diselesaikan oleh kedua orang teman kita yang berada di depan ini. Kalau kita amati, orang pertama begitu gampang melaksanakan tugasnya, ia hanya diberikan tugas untuk melemparkan kertas tadi ke arah yang ia suka; namun walau demikian, ada sedikit kebingungan yang dialami oleh orang pertama ini dalam menentukan arah tujuannya. Kemudian, mari kita amati pula tugas yang telah dilaksanakan oleh orang kedua, sahabat.. kita sama-sama menyaksikan bahwa orang kedua ini belum berhasil untuk mengenai titik tujuan lemparan kertasnya, maklum.. tugas yang diberikan orang kedua ini agak sedikit sulit ketika tugasnya ditambahkan dengan diminta untuk mengenai titik tujuan yang berjarak beberapa meter di depannya, lemparannya masih melenceng beberapa senti dari titik tujuan, padahal sebelum melempar, ia sudah mengerahkan pikirannya untuk focus terhadap targetnya, ia membutuhkan waktu 10 detik agar dirinya bisa lebih focus. Sahabat, apa pelajaran sederhana yang bisa kita ambil dari dua contoh ini? Kita harus paham, orang yang memiliki target dan tujuan saja masih berpotensi untuk gagal dalam usahanya, apalagi orang yang tidak memiliki target dan tujuan? Ia akan dibingungkan dengan kegiatan yang tidak bisa memfokuskan dirinya agar jadi orang yang berhasil, ia akan bingung dan amat berpotensi untuk terlena dengan banyaknya waktu yang menurutnya banyak tersedia, sehingga seringkali ia menunda-nunda pekerjaannya dan tak focus pada target dan tujuan hidupnya.

 

Sahabat, mari sejenak kita merenung, menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan-lahan, sambil merileksasikan kembali tubuh kita, semoga setelahnya kita bisa lebih nyaman untuk kembali mengevaluasi usaha-usaha kita dalam merealisasikan target dan tujuan hidup yang sebelumnya sudah kita tentukan, amati dengan cermat, “mau menjadi insan yang seperti apa nanti ketika di masa depan? Satu tahun lagi? Lim tahun lagi? Dan beberapa taun kedepan..”dari pertanyaan tersebut, mulailah kobarkanlah kembali semangat anda, mantapkan hati anda, hujamkan di atasnya keoptimisan yang tak seorang pun mampu melemahkannya, berdo’alah pula jangan lupa kepada Sang Pemilik Semesta, semoga target dan tujuan segea tercapai, semoga segala usaha meretas cita dibalasnya dengan kesuksesan besar yang memunculkan kesuksesan-kesuksesan lain setelahnya. Aamiin.

 

Buat target dan tujuanmu, focus dan jangan pernah menyerah untuk selalu berusaha mendapatkannya, karena kesuksesan akan lebih manis ketika anda berhasil mendapatkannya dengan kerja keras dan jerih payah anda sendiri; tidak meminta.

Tangerang Selatan, 18 September 2014,  00.12 WIB

Gerak yang Bergerak
Uncategorized
December 23, 2014
0

Di pagi hari, kita dapat menghirup segarnya udara; baik di desa ataupun di kota. Bila beruntung, kita akan mendapatkan sepoinya angin yang menenangkan, menyejukkan, lembutnya angin dapat kita rasakan walau tak dapat kita pegang. Udara atau pun angin dengan kadar dan kandungan tertentu menjadi kebutuhan sehari-hari kita. Namun, pernahkah kita berpikir, bila lembutnya tiupan angin tersebut berubah menjadi kekuatan yang dahsyat, yang mampu menerbangkan benda-benda yang berada di sekitarnya, rumah, pepohonan, kendaraan; semuanya dapat diterbangkan, angin menjadi berbahaya.

 

 

Hujan, senang sekali rasanya kita waktu kecil saat hujan turun, teman-teman berkumpul ceria tanpa dikomando lagi, suatu kebiasaan yang menyenangkan mandi hujan di perkampungan, suatu moment yang hanya menyenangkan bila umur kita masih tergolong kanak-kanak, sebab.. bila telah beranjak dewasa, justru kita menghindari hujan karena takur basah, sebagian malah mengutuk jika hujan turun disaat waktu yang (menurutnya) tidak tepat, padahal bila tak ada hujan, bumi tandus pepohonan kan mati. Mungkin sebagian dari kita pernah merasakan saat-saat mengendarai motor ditengah hujan lebat, dengan tidak menggunakan helm atau menggunakan helm dengan membuka kaca penutup wajahnya, apa yang dirasakan? sakit, ya betul.. rintik-rintik hujan yang mengenai wajah kita secara langsung ditambah dengan laju kecepatan motor yang kita kendarai akan membuat wajah kita terasa sakit dan membuat kita tidak nyaman.

 

Aku teringat perkataan Sensei (guru perguruan) karate ku: “jari telunjuk, bila digerakkan secara pelan saja ke arah mata akan membuat mata menjadi sakit; karena tercolok. apalagi jika digerakkan dengan kekuatan penuh?!”

 

Sahabat, mengapa dari awal tadi saya menceritakan tentang angin yang lembut kemudian diberikan tenaga yang lebih akan berbahaya? kemudian mengenai rintik hujan yang pada awalnya menyenangkan namun berubah menjadi menyakitkan bila rintik hujan tersebut dilawan dengan kecepatan yang agak besar? terakhir mengenai jari telunjuk yang diarahkan ke arah mata walau secara pelan-perlahan dapat membuat mata menjadi sakit karena tercolok? Saya ingin memberikan kesimpulan bahwa “sesuatu yang lembut bisa menjadi keras dengan diberikan suatu tenaga yang lebih”, maknanya.. banyak dari kita yang merasa kemampuan yang dimilikinya tidak akan membawa manfaat di kehidupan ini, padahal jika kita pikirkan dalam-dalam, banyaknya macam-macam kemampuan yang dimiliki masing-masing manusia akan membuat hubungan diantara mereka menjadi semakin baik. Orang-orang yang berpikiran seperti ini sebenarnya mereka hanya belum atau tidak mengoptimalkan kemampuan yang telah dimilikinya, sehingga kemampuan tersebut menjadi kecil manfaatnya, padahal bila mereka terus mengasah kemampuannya, secara perlahan namun pasti akan membawa perubahan dan dampak yang besar bagi sekitarnya. Kemudian yang harus diingat pula, kemampuan besar yang ada di dalam diri kita juga harus diarahkan tempat penyalurannya, agar yang terjadi hanyalah sebuah dampak positif yang bermanfaat, bukan dampak negatife yang merugikan, seperti kekuatan besar yang ada dalam angin tornado atau tsunami.

 

 

Maka, buang rasa malu dan tidak percaya diri akan kekuatan yang kita punya di dalam diri. Bergeraklah! Bangkitkan, kobarkan dan sebarkan semangat yang ada di dalam diri kita, biar semua orang merasakan manfaat akan hadirnya diri kita. Kekuatan kita, kelebihan kita, potensi kita semuanya pasti ada manfaatnya jika kita mampu mengolah hal tersebut secara baik. Tidak ada yang sia-sia jika kita berusaha, kenali dirimu dan bersyukurlah kepada Tuhan-mu, karena.. kau begitu spesial! bergembiralah, nikmati proses kesuksesanmu!

Sahabat Masa Lalu
Uncategorized
December 23, 2014
0

Guruku pernah mengatakan, “Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin banyak haknya atas diri kita. Orang yang kita kenal, lebih banyak haknya atas diri kita dari pada orang yang belum kita kenal”. Bila dicermati, orang yang sangat dekat dengan kita adalah orangtua kita, saudara, guru, sahabat, tetangga dan seterusnya. Namun, apabila kita mengenang masa kecil kita di kampung halaman, ingatan akan membawa kita kepada sahabat sejati kita sejak kecil: sahabat yang selalu menemani kita ‘mandi hujan’, sahabat yang selalu ada untuk bermain mengitari kampung halaman, melewati sawah, bermain kelereng, lompat karet, galaksin, batu tujuh, petak umpet, bersepeda dan semua permainan tradisional yang setiap harinya kita lakukan berulang-ulang sampai kita amat mahir memainkan permainan tersebut, semuanya kita lakukan bersama dengan penuh suka cita.

 

Sekarang, saat kita telah tumbuh dewasa dan mempunyai cita-cita hidup, adakah diantara kita yang masih ingat kapan terakhir kali kita menyapa mereka? kapan terakhir kali bermain dengan mereka? makan bersama? hujan-hujanan bersama? mengaji bersama? saling mengingatkan ketika keegoisan mulai bermunculan beriringan dengan semakin dewasanya kita?. Mungkin kebanyakan dari kita sudah melupakan kenangan indah itu.. Mungkin kini kita sudah terlalu ego dan amat berambisi mengejar karir hingga melupakan orang-orang yang dahulu setia menemani kesepian kita, mungkin kini yang kita pikirkan mengenai sahabat adalah mereka yang jika kita menjalin hubungan dengannya kita bisa menghasilkan uang dan banyak keuntungan lainnya, minimal menguntungkan diri sendiri tanpa peduli nasibnya, jika demikian.. segeralah perbaiki niat kau dalam menjalani hidup yang hanya sementara ini.

 

Pernahkah kita menayakan kabar mereka sekarang? sahabat kecil kita dahulu, kini banyak diantara mereka yang nasibnya tak sebaik diri kita, mereka berjuang mati-matian hanya untuk sesuap nasi, dilecehkan banyak orang, dipermainkan layaknya binatang, bahkan dipandang sebelah mata diangap tak mempunyai harga diri lagi. Adakah terbesit rasa peduli di hati kita untuk mereka? adakah cita-cita untuk membangun usaha bersama mereka? atau mempekerjakan mereka di perusahaan yang sudah kita miliki sekarang? atau paling tidak mengajari mereka banyak hal tentang agama, keterampilan hidup, dan berbagai ilmu –yang sejatinya- dititipkan oleh Allah SWT kepada diri kita untuk mengajari mereka dan bersama memajukan masyarakat di desa kita?

 

Sahabat, jika kau sekarang berada di atas, janganlah kita sekali-kali melupakan daratan tempat pertama kali kita berpijak, sapalah mereka.. ajarkan mereka.. ingat, hidup ini bagaikan roda yang berputar, kenikmatan dan ujian terus berputar silih berganti di sekitar kita, kita hidup dalam peran yang sederhana, antara yang membantu dan yang dibantu; setiap kita memainkan peran tersebut.. maka janganlah sombong atas kesuksesan kita hari ini, jangan pula beranggapan bahwa kesuksesan kita adalah murni hasil kerja keras kita, kesuksesan kita hari ini adalah berkat kumpulan rangkaian jasa orang-orang yang kita kenal dahulu, yang senantiasa bersabar mengajari kita, membantu kita, dan ternyata, ada orang-orang yang senantiasa mendo’akan kita pagi dan malam tanpa pernah kita ketahui, mereka semua tulus membantu kita agar suatu saat kelak kita sukses dan bahagia, mereka tulus membantu kita karena mereka mencintai kita, mereka menganggap kita adalah sahabat terbaik yang pernah hadir dalam kehidupan mereka, kepergian kita untuk merantau mengejar cita pun menjadi kesedihan yang berkepanjangan.

 

“Semakin dekat kita dengan seseorang, semakin banyak haknya atas diri kita. Orang yang kita kenal, lebih banyak haknya atas diri kita dari pada orang yang belum kita kenal”, itulah mengapa kita perlu memperhatikan mereka, karena mereka punya banyak hak katas segala kesuksesan yang kita nikmati sekarang. Sahabat tahu lagu dari Provinsi Riau yang berjudul Soleram? di dalamnya ada sepenggal kalimat yang amat bermakna: “kalau tuan dapat kawan baru – kawan lama dilupakan jangan”.

 

Semoga Bermanfaat!

Berjuanglah dengan Senjatamu
Uncategorized
December 20, 2014
0
  1. berjuanglah dengan senjatamu | optimalkan kelebihan yg diberikan-Nya | alangkah nikmatnya mengabdi dgn potensi
  2. jangan jadi orang lain | jadilah dirimu sendiri
  3. saat kau dipercaya orang lain | seharusnya kau lebih mempercayai dirimu sendiri
  4. saat kau dibutuhkan orang lain, bersyukurlah | karena pertanda kau masih berguna
  5. setiap mulut bertanggung jawab atas apa yg diucapkannya | berhati-hatilah saat kau berbicara | apalagi di depan banyak orang
  6. ‘amanah’ itu mempercepat untuk sampai pada surga atau neraka
  7. bila kurang persiapan | maka kurang juga keahlian
  8. jangan sia-siakan ‘titipan’ yang datang kepadamu | karena suatu saat ia akan kembali kepada Pemilknya
  9. saat setiap pasang mata tertuju ke arahmu | saat itulah ksmptan yg amat besar utk menyampaikan kebenaran | maka jgn sdktpun kau sia-siakan
  10. Allah mengutus sebagian orang utk hadir dalam kehidupanmu | menjadi bagian dari guru kehidupanmu
  11. setiap orang berjuang dengan apa yang bisa ia lakukan | teruslah bergerak menebar manfaat
  12. syukuri saja setiap kebaikan yg hadir dalam hidup kita
  13. ketika orang mempercayaimu | itu adalah anugerah-Nya | maka jangan kau mengecewakan-Nya
  14. teko yang kosong | tak akan memberikan air sedikitpun
  15. gelas yang lebih tinggi dari tekonya | tak akan mendapatkan air sedikitpun
  16. bersyukurlah atas nikmat kesempatan menyampaikan kebenaran | jangan sia-siakan waktu yang diberikan
  17. setiap kita berjuang dgn senjata yg kita miliki | dgn potensi yg diberikan-Nya | dengan ladang amal yg berbeda
  18. kenali dan pahami potensimu | maka, berbahagialah karena kau special
  19. setiap orang membawa visi kehidupannya masing-masing
  20. amat rugi jika potensi yang Allah berikan tak digunakan untuk kebaikan
  21. jangan bersedih | kau tetap mempunyai kesempatan untuk melakukan kebaikan dengan caramu sendiri
  22. jangan mempersempit makna kebaikan, karena kebaikan itu banyak caranya
  23. mulai dari niat yang baik, sudah berbuah pahala | alangkah cintanya Allah kepada kita
  24. berbahagialah jika anda seorang muslim | karena, dalam kenikmatan ia bersyukur – dalam kesusahan ia bersabar
  25. hobi yang berbuah pahala itu menyamankan
Ternyata, Guruku (yang ini) Kucing
Uncategorized
December 19, 2014
0

ada kemauan ada jalan, dan kemauan ditambah dengan usaha: makin terbuka jalan

 

jika ada kemuan yang kuat dalam diri kita untuk mencapai sesuatu

maka kita akan otomatis berusaha sekuat mungkin untuk mencapainya

terciptalah beribu-ribu cara untuk mencapai apa yang kita inginkan

 

namun, jika sudah tidak ada kemauan

tubuh pun berat untuk bergerak, otak malas untuk  berpikir

maka, terciptalah beribu-ribu alasan: untuk gagal

 

pagi ini saya mendapatkan inspirasi dari seekor kucing…

kucing ini, biasa menginap di halaman rumah saya

malamnya, ia tidur nyenyak: tak ada yang mengganggunya

karena? pintu halaman dan pagar telah tertutup rapat

 

ketika sang fajar mulai menyingsing

kucing ini pun sadar, ia harus mencari makan

maka, ia pun harus keluar dari halaman rumah saya

namun, tidak bisa. karena? halaman telah tertutup rapat, tak ada celah untuk kucing itu keluar

 

sebelum meminta, ia berusaha

sedikit apapun celah yang mungkin saja bisa meloloskan dirinya ia tempuh

bolak-balik menyusuri setiap celah pagar, terus ‘mengasah’ otak

hasilnya? tetap tidak bisa

 

kemudian, kucing ini pun menemukan solusinya. ia berpikir:

yang memegang kunci halaman adalah pemilik rumah ini; saya

maka, ia harus meminta saya untuk membukakan pintu halaman

agar ia bisa keluar ‘mencari nafkah’

(*kenapa gak minta makan di rumah saya ya? ooh mungkin ia tahu diri, setelah menginap ia tidak mau merepotkan dengan minta sarapan pagi

atau ia tahu, si pemilik rumah pagi ini belum belanja atau lagi belum punya rezeki untuknya, jadi dia tidak meminta dulu untuk pagi ini, atau? apalah >__< )

 

perbedaan bahasa antar manusia dan kucing mungkin jadi pertimbangannya untuk meminta kepada saya agar membukakan pintu halaman untuknya

namun, ingat nasihat sederhana ini:

ada kemauan ada jalan, dan kemauan ditambah dengan usaha: makin terbuka jalan

jika ada kemuan yang kuat dalam diri kita untuk mencapai sesuatu

maka kita akan otomatis berusaha sekuat mungkin untuk mencapainya

terciptalah beribu-ribu cara untuk mencapai apa yang kita inginkan

namun, jika sudah tidak ada kemauan

tubuh pun berat untuk bergerak, otak malas untuk  berpikir

maka, terciptalah beribu-ribu alasan: untuk gagal

kucing ini pun me-ngeong

seakan ia berbcicara dan memanggil penghuni rumah agar mengerti kemauannya: terbukanya pintu halaman

kemudian, dengan izin Allah Yang Maha Pemberi rezeki

penghuni rumah pun berjalan menuju halaman rumah dan membukakan pintu halaman; untuk si kucing

dalam hal ini, si kucing berhasil mendapatkan keinginannya untuk keluar dari halaman yang terkunci

karena? ia mau, dan ia berusaha, maka Allah mengabulkan keinginan baiknya

 

 

Skip to toolbar