Allah Menolongku dengan “Salah Jalan”

Bismillah..
Hai, Assalamua’alaykum sobat CerdasMulia.. duh sudah lama saya gak menulis lagi ternyata lumayan sulit untuk istiqomah dalam menulis setiap hari terutama saat rasa ‘mager’ melanda hehe jangan ditiru ya sobat 😀

Tapi beberapa hari lalu ketika dua orang kakak-kakak hebat saya mengajak untuk menulis buku bersama, saya langsung semangat lagi untuk menulis, mengingat umur juga gak tahu sampai kapan saya pikir nanti nya akan sangat menyesal jika saya membuang-buang waktu ini terlebih lagi jika mengingat bahwa menulis merupakan salah satu cara yang baik untuk berdakwah, menebar kebermanfaatan hingga akhirnya dapat terus berkarya.

Inspirasi tulisan saya kali ini berasal dari pengalaman yang baru 4 bulan lalu kurang lebih saya alami. Check this out.

Alhamdulillaah 4 bulan yang lalu pula saya mendapatkan kabar gembira bahwa saya lolos seleksi mahasiswa baru dan diterima di Universitas Negeri Jakarta jurusan Biologi. Euforia bahagia luar biasa saya alami setelah pengumuman hingga beberapa hari setelahnya.
Tahap berikutnya tentu saya harus datang ke kampus untuk lapor diri dan mengurus berkas-berkas lain nya. Jarak rumah yang lumayan jauh membuat saya harus mempersiapkan berkas-berkas dan berangkat ke kampus lebih awal terlebih lagi banyak nya mahasiswa baru yang senasib dengan saya tentu akan sangat meledak.

Karena belum berani mengendarai motor sendiri terutama karena belum tahu dan hafal dengan daerah nya saya memutuskan untuk naik transjakarta, ya kira-kira perjalanan saya menuju kampus bisa ditempuh minimal 1 jam perjalanan. Tapi diluar dugaan, ternyata saat itu perjalanan saya tempuh selama 2 jam, apalagi kalau bukan karena macet nya Jakarta dan lama nya menunggu transjakarta di setiap kali transit. Berangkat pukul 6 pagi dan sampailah saya di kampus pukul 9, dengan tergesa-gesa saya berjalan menuju loket antrian dan apa daya ternyata antrian sudah sangat panjang dan ramai. Melihat situasi saat itu rasanya saya ingin kembali lagi ke rumah hehe..

Ibaratkan ajang pencarian bakat panjang antrian pun saya ikuti dengan terik matahari yang menyengat, qadarallah saya selesai mengantri dan bisa berdiri di depan loket pukul 2 siang, sedih bukan? Hehehe..

Yap, hari itu hanya saya habiskan waktu untuk mengantri dan mendapatkan berkas-berkas yang harus diisi. Masih banyak yang harus dilakukan tapi kaki saya sudah meminta untuk melangkah ke rumah, baiklah apa boleh buat besok saya harus kembali lagi ke kampus ini.
3 hari berturut-turut saya bolak-balik ke kampus untuk mengurus berkas tersebut namun masih juga belum selesai. Saya sangat ingat pada hari ketiga dimana seharusnya saya mengantri untuk tes kesehatan tapi ketika saya sampai di kampus dan ingin mengambil nomor antrian ternyata nomor pun sudah habis hingga nomor urut ke-500. Bukan main memang… hingga sulit berkata-kata pada saat itu saya pun pulang dengan tangan kosong, padahal saat itu saya sudah sampai kampus pukul 8 pagi.

Hari ke-4 pun tiba dan saya sangat bertekad untuk datang sepagi mungkin karena tidak mau lagi gagal dan sia-sia, sudah 3 hari saya datang sendiri dan untuk kali ini saya mengajak ibu setidaknya agar bisa menjadi tempat bersandar ketika kata lelah mulai terucap hehe..
Dengan niat ingin sampai di kampus pukul 7 saya pun berangkat pukul setengah 6 pagi dengan kendaraan yang sama. Tapi dan tapi kejadian cukup menjengkelkan terjadi saat itu, entah saya tidak menyadari atau memang salah naik transjakarta pun tidak berhenti di tempat biasa nya saya transit melainkan malah melewati halte yang berbeda, seketika panik melanda terlebih saya mengajak ibu. Duh…

Petugas transjakarta pun menjelaskan bahwa saya tetap bisa turun di halte dekat kampus namun melewati rute yang cukup jauh dan mutar-mutar. Setelah sudah terlanjur melewati 2 halte saya pun turun dan bingung antara lanjut atau pulang karena waktu sudah menunjukan setengah 8 pagi. Dengan sedikit panik dan kesal saya dan ibu sempat berdebat sebentar hehehe.. namun akhirnya karena ibu saya yakin masih bisa mendapat nomor antrian kami pun memutuskan untuk naik ojek.

Tidak tanggung-tanggung abang ojek meminta upah 50 ribu plus tidak bisa ditawar, agak sedih tapi saat itu hanya bisa pasrah. Jalanan Jakarta macet waktu itu namun abang ojek seperti nya mengerti keadaan saya, ojek pun melaju kencang dan membuat saya cukup dag dig dug..

Alhamdulillaah ternyata sama seperti kemarin saya sampai jam 8 hanya kurang sedikit, ketika akan mengambil nomor antrian lagi-lagi nomor tersebut sudah habis sampai nomor 500. Jujur saya sangat sedih… tapi… tiba-tiba petugas kesehatan memberitahukan bahwa hari itu ada penambahan nomor urut sampai 600.

Saya pun tidak jadi sedih hehe.. saya ingat betul akhirnya saat itu saya mendapatkan nomor urut 569 nyaris menuju 600. Alhamdulillaah keputusan saya untuk mengajak ibu memang sangat tepat karena saya harus menunggu disana sampai pukul 5 sore tepatnya barulah selesai semua urusan tidak hanya tes kesehatan namun juga pengembalian semua berkas.

Tamat.

Fiuhh begitulah cerita saya sobat, lelah bukan membayangkan nya? Hehehe..

Namun cerita ini bukan hanya sekedar cerita, ada hikmah besar yang saya dapatkan bahwa Allah ternyata menolong saya melalui salah jalan alias saya salah menaiki transjakarta hingga akhirnya harus naik ojek.

Mungkin itulah cara Allah agar saya naik ojek dan cepat sampai, Allah sungguh Maha Mengetahui segala sesuatu. Jika saja sekalipun saya tidak salah naik transjakarta mungkin saya tidak akan mendapatkan nomor urut tambahan tersebut karena jalan yang macet dan seperti biasa lama nya waktu untuk menunggu transjakarta saat transit.

Allah pun sudah menentukan bahwa ibu saya harus ikut walaupun akhirnya juga ikut salah jalan bersama saya, karena Allah pun telah mengetahui bahwa waktu untuk menunggu akan lama maka ibu saya menjadi teman menunggu saat itu.

Alhamdulillaah saya sangat bersyukur walaupun uang yang dikeluarkan cukup besar untuk membayar ojek , saya yakin Allah akan mengganti nya dengan yang lebih baik ^^

“Maka nikmat Tuhan manakah yang akan kamu dustakan?” (Q.S Ar-Rahman)
Sungguh Allah maha Tahu bahkan daun yang berguguran setiap hari nya pun Allah telah mengetahui nya, bukan kah Allah lebih dekat daripada urat nadi kita? 🙂

Boleh jadi, kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah yang paling mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah:216)

Alhamdulillah ‘ala kulli haal.. sekian cerita saya kali ini, semoga bermanfaat dan silahkan di share 🙂
Wassalamu’alaykum ^^

Profile photo of Saskia Ratry Arsiwie
Profile photo of Saskia Ratry Arsiwie

Latest posts by Saskia Ratry Arsiwie (see all)


Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Skip to toolbar